fbpx

Sang Rahib Buhaira

Ketika Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam berusia 12 tahun (menurut riwayat lain 12 tahun 2 bulan 10 hari [1]) Pamannya, Abu Thalib, membawanya serta berdagang ke negeri Syam hingga mereka sampai ke suatu tempat bernama Bushra yang masih termasuk wilayah Syam dan merupakan ibukota Hauran.

|Baca juga: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam Menggembala Kambing

Ketika itu, Syam merupakan ibukota negeri-negeri Arab yang masih mengadopsi undang-undang Romawi. Di negeri inilah dikenal seorang Rahib (pendeta) bernama Bahira/Buhaira (ada yang mengatakan nama aslinya adalah Jarjis). Ketika rombongan tiba, dia langsung menyongsong mereka padahal sebelumnya dia tidak pernah melakukan hal itu, kemudian berjalan di sela-sela mereka hingga sampai kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu memegang tangannya sembari berkata, “Inilah penghulu alam semesta, inilah utusan Rabb alam semesta, dia diutus oleh Allah sebagai rahmat bagi alam semesta ini.
Abu Thalib & pemuka kaum Quraisy bertanya kepadanya, “Bagaimana anda tahu hal itu?” Dia menjawab, “Sesungguhnya ketika kalian muncul dan naik dari bebukitan, tidak satu pun dari bebatuan ataupun pepohonan melainkan bersujud terhadapnya, dan keduanya tidak akan bersujud kecuali terhadap seorang Nabi. Sesungguhnya aku dapat mengetahuinya melalui tanda kenabian yang terletak pada bagian bawah tulang rawan pundaknya yang bentuknya seperti apel. Sesungguhnya kami mengetahui hal tersebut dari kitab suci kami“.
Kemudia Sang Rahib mempersilakan mereka dan menjamu mereka secara istimewa. Setelah itu dia meminta kepada Abu Thalib agar memulangkan keponakannya tersebut ke Makkah dan tidak membawanya serta ke Syam sebab khawatir bila tertangkap oleh orang-orang Romawi dan Yahudi. Akhirnya, pamannya mengirimnya pulang bersama sebagian anaknya ke Makkah (Sunan at-Tirmidzi, 3620. al-Mushannaf karya Ibnu Abi Syaibah, 11/489).[2]

Sewaktu mereka mendatangi undangannya, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berada di antara unta-unta. Buhaira berkata, “Panggil dia bersama kalian, kemudian dia datang dan awan telah menaunginya.” Setelah mendekat ke kaum, ternyata naungan pohon itu telah melindungi tokoh Quraisy dan tatkala Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam duduk, tiba-tiba teduh pohon itu beralih ke Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Buhaira berkata, “Lihatlah bagaimana teduh pohon itu beralih menaunginya”. Kemudian dia berpesan agar tidak membawa Muhammad ke Romawi, karena kalau mereka melihat Muhammad, maka mereka pasti mengenalinya dan membunuhnya.

Kemudian tiba-tiba ada 7 orang yang datang dari Romawi, Buhaira menemuinya & berkata, “Apa yang menyebabkan kalian datang?” Mereka berkata, “Kami datang karena pada bulan ini, ada seorang Nabi yang telah melakukan perjalanan & tidak ada jalan, kecuali telah ditelusuri & kami telah mendapat informasi bahwa dia melintasi jalan kamu ini”.
Buhaira berkata, “Bagaimana pendapat kalian, jika Allah berkehendak atas sesuatu, adakah seorang dari umat manusia ini yang mampu untuk menahannya?” Mereka berkata, “Tidak Mungkin”. Buhaira berkata, “Kalau begitu baiatlah dia”. Mereka membaiatnya dan kemudian bertanya, “Siapakah walinya?” Mereka berkata, “Abu Thalib”.

“Hikmah dan Pelajaran”

1. Pada kisah Buhaira terdapat bukti bahwa Ahlu Al-Kitab mengetahui sifat & zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam akan diutus,[3] pengingkaran mereka terhadap risalah adalah atas dasar ilmu pengetahuan, bukan atas dasar kebodohan. Allah Ta’ala berfirman,

وَلَمَّا جَآءَهُمْ كِتَٰبٌ مِّنْ عِندِ ٱللَّهِ مُصَدِّقٌ لِّمَا مَعَهُمْ وَكَانُوا۟ مِن قَبْلُ يَسْتَفْتِحُونَ عَلَى ٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟ فَلَمَّا جَآءَهُم مَّا عَرَفُوا۟ كَفَرُوا۟ بِهِۦ ۚ فَلَعْنَةُ ٱللَّهِ عَلَى ٱلْكَٰفِرِينَ

“Dan setelah datang kepada mereka Al-Qur’an dari Allah yang membenarkan apa yang ada pada mereka, padahal sebelumnya mereka biasa memohon (kedatangan Nabi) untuk mendapat kemenangan atas orang-orang kafir, Maka setelah datang kepada mereka apa yang telah mereka ketahui, mereka lalu ingkar kepadanya. Maka laknat Allah-lah atas orang-orang yang ingkar itu.” (Qur’an surat Al-Baqarah ayat 89).

2. Pada kisah Buhaira terdapat kesaksian Ahlu Al-Kitab terhadap Ahlu Al-Kitab, bahkan kesaksian seorang ulama dari Ahlu Al-Kitab tentang kebenaran Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan kesaksian terhadap orang-orang Nashrani bahwa mereka akan memusuhi Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, berdasarkan dari firman Allah:

وَشَهِدَ شَاهِدٌ مِّنْ أَهْلِهَآ 

“Dan seorang saksi dari keluarga wanita itu memberikan kesaksiannya.” (Qur’an surat Yusuf ayat 26).

Oleh karena itu, dikatakan kepada Ahlu Al-Kitab, ‘Ulama mereka bersaksi atas kebenaran kenabian Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan mereka bersaksi akan permusuhan yang keras dari kaum Nashrani.

3. Sebagian Nashrani berkomentar tentang pertemuan Buhaira dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, mereka berkata, “Apa yang dikatakan Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam setelah diangkat menjadi Nabi adalah dari pengajaran Buhaira, kalau memang demikian, maka patut dikatakan kepada mereka, “Kenapa kalian tidak menerima pernyataannya yang mengatakan tentang kebatilan akidah trinitas, penghapusan dosa dan penyaliban, doktrin yang dibawakan Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dari pendeta itu?
Kenapa orang-orang Nashrani pada hari ini tidak menerima pernyataan dari sesepuh mereka tentang kebatilan akidah mereka sebagaimana yang difirmankan oleh Allah Ta’ala,

لَقَدْ كَفَرَ ٱلَّذِينَ قَالُوٓا۟ إِنَّ ٱللَّهَ هُوَ ٱلْمَسِيحُ ٱبْنُ مَرْيَمَ ۖ 

“Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: ‘Sesungguhnya Allah ialah Al-Masih putera Maryam’.” (Qur’an surat Al-Maidah ayat 72).

Dan juga Firman-Nya,

لَّقَدْ كَفَرَ ٱلَّذِينَ قَالُوٓا۟ إِنَّ ٱللَّهَ ثَالِثُ ثَلَٰثَةٍ ۘ وَمَا مِنْ إِلَٰهٍ إِلَّآ إِلَٰهٌ وَٰحِدٌ

“Sesungguhnya kafirlah orang-orang yang mengatakan: ‘Bahwasanya Allah salah seorang dari yang tiga’, Padahal sekali-kali tidak ada Tuhan selain dari Tuhan yang Esa.” (Qur’an surat Al-Maidah ayat 73).

Kalau memang perkataan tersebut bersumber dari Buhaira, Maka kenapa kalian tidak menerimanya? [4]

FOOT NOTES:
[1] Hal ini dinyatakan oleh Ibnu al-Jauzi dalam kitab Talqihu Fuhumi Ahlil Atsar, loc.cit.
[2] Sunan at-Tirmidzi, 3620. al-Mushannaf karya Ibnu Abi Syaibah, 11/489; Dala’il karya al-Baihaqi, 2/24,25; ath-Thabari, op.cit., 2/278-279. Di dalam Sunan at-Tirmidzi dan selainnya disebutkan bahwa Abu Thalib mengutus bersamanya Bilal dan ini suatu kekeliruan yang jelas, sebab, Bilal ketika itu sepertinya belum ada, sekalipun sudah ada, maka dia tidaklah ikut-serta bersama paman beliau, tidak pula bersama Abu Bakar, (Lihat, Zad al-Ma’ad, 1/17).
[3] Lihat Dr Mahdi Rizkullah, As-Sirah An-Nabawiyah, hal. 122.
[4] Lihat catatan kaki buku, Rahmatan lil’alamin, tulisan Qadhi Muhammad Sulaiman Al-Manshurfuri, 1/34.

Diambil dari Sumber Buku:
Ar-Rahiq al-Makhtum (Sirah Nabawiyah Perjalanan Hidup Rasul yang Agung Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, edisi revisi); Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri (Penerbit Darul Haq, Jakarta).
Fikih Sirah Nabawiyah; Prof. Dr. Zaid bin Abdul Karim Az-Zaid (Penerbit Darus Sunnah, Jakarta)

Nantikan Episode selanjutnya ya. in syaa Allah kita semua diberi rizki umur dalam keberkahan. Aamiin.
Mari bersholawat atas Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Mari mempelajari perjalanan hidup suri teladan kita Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

The Habaib – Media Islam dan Kajian Online

Leave a Reply

*