fbpx

Perayaan Tahun Baru: Three In One

Sadarkah kita bahwa dalam perayaan tahun baru terdapat terompet yang biasa digunakan kaum yahudi untuk memanggil jema’ahnya beribadah, lonceng yang digunakan kaum nasrani untuk memanggil jema’ahnya beribadah, dan kembang api yang digunakan kaum majusi untuk beribadah? Ketika seorang muslim turut merayakan tahun baru maka ia telah menyerupai 3 kaum kafir dalam 1 malam saja, dan coba bayangkan sudah berapa banyak perayaan tahun baru yang dia turut rayakan sebelumnya? Allahu Musta’an.

Padahal setiap hari  minimal 17 kali dalam shalat kita meminta ditetapkan diatas jalan hidayah dan berlindung dari jalan orang-orang yang Allah Ta’ala murkai (yaitu yahudi) dan jalan orang-orang yang tersesat (yaitu nasrani). Doa yang kita panjatkan setiap membaca surat Al Fatihah, berharap agar Alah Ta’ala kabulkan.

Bila kemudian kita justru meniru prilaku dan mengikuti jalan mereka, ini sungguh bertentangan dengan doa yang kita pinta sendiri.

Merayakan tahun baru adalah meniru gaya dan perayaan orang kafir. Perayaan ini dan semacamnya bukanlah perayaan Islam dan tidak pernah dirayakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan sahabat. Para ulama madzhab pun tak pernah menganjurkannya. Perayaan ini murni meniru perayaan orang kafir.

|Baca Juga : Selamat Natal Itu Bukan Sekedar Ucapan

Sejarah Perayaan Tahun Baru

Tahun Baru pertama kali dirayakan pada tanggal 1 Januari 45 SM. Tidak lama setelah Julius Caesar dinobatkan sebagai kaisar Roma, ia memutuskan untuk mengganti penanggalan tradisional Romawi yang telah diciptakan sejak abad ketujuh SM. Dalam mendesain kalender baru ini, Julius Caesar dibantu oleh Sosigenes, seorang ahli astronomi dari Iskandariyah, yang menyarankan agar penanggalan baru itu dibuat dengan mengikuti revolusi matahari, sebagaimana yang dilakukan orang-orang Mesir. Satu tahun dalam penanggalan baru itu dihitung sebanyak 365 seperempat hari dan Caesar menambahkan 67 hari pada tahun 45 SM sehingga tahun 46 SM dimulai pada 1 Januari. Caesar juga memerintahkan agar setiap empat tahun, satu hari ditambahkan kepada bulan Februari, yang secara teoritis bisa menghindari penyimpangan dalam kalender baru ini. Tidak lama sebelum Caesar terbunuh pada tahun 44 SM, dia mengubah nama bulan Quintilis dengan namanya, yaitu Julius atau Juli. Kemudian, nama bulan Sextilis diganti dengan nama pengganti Julius Caesar, Kaisar Augustus, menjadi bulan Agustus. (Sumber: Wikipedia)

Muslim Tidak Boleh Meniru Tradisi Orang Kafir

Sejarah sudah jelas menyatakan perayaan tahun baru masehi merupakan tradisi orang kafir, dan kita dilarang tasyabbuh (meniru) tradisi mereka, yang lebih parah lagi bahkan ikut merayakannya.

Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

« لاَ تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى تَأْخُذَ أُمَّتِى بِأَخْذِ الْقُرُونِ قَبْلَهَا ، شِبْرًا بِشِبْرٍوَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ » . فَقِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ كَفَارِسَ وَالرُّومِ . فَقَالَ « وَمَنِ النَّاسُإِلاَّ أُولَئِكَ »

Kiamat tidak akan terjadi hingga umatku mengikuti jalan generasi sebelumnya sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta.” Lalu ada yang menanyakan pada Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam-, “Apakah mereka itu mengikuti seperti Persia dan Romawi?” Beliau menjawab, “Selain mereka, lantas siapa lagi? (HR. Bukhari no. 7319)

Dari Abu Sa’id Al Khudri, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَتَتَّبِعُنَّ سَنَنَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ شِبْرًا بِشِبْرٍ وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ حَتَّى لَوْ دَخَلُوا فِي جُحْرِ ضَبٍّ لَاتَّبَعْتُمُوهُمْ قُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ آلْيَهُودَ وَالنَّصَارَى قَالَ فَمَنْ

Sungguh kalian akan mengikuti jalan orang-orang sebelum kalian sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta sampai jika orang-orang yang kalian ikuti itu masuk ke lubang dhob (yang penuh lika-liku, pen), pasti kalian pun akan mengikutinya.” Kami (para sahabat) berkata, “Wahai Rasulullah, Apakah yang diikuti itu adalah Yahudi dan Nashrani?” Beliau menjawab, “Lantas siapa lagi? (HR. Muslim no. 4822)

An Nawawi rahimahullah ketika menjelaskan hadits di atas menjelaskan, “Yang dimaksud dengan syibr (sejengkal) dan dziro’ (hasta) serta lubang dhob (lubang hewan tanah yang penuh lika-liku), adalah permisalan bahwa tingkah laku kaum muslimin sangat mirip sekali dengan tingkah Yahudi dan Nashroni. Yaitu kaum muslimin mencocoki mereka dalam kemaksiatan dan berbagai penyimpangan, bukan dalam hal kekufuran. Perkataan beliau ini adalah suatu mukjizat bagi beliau karena apa yang beliau katakan telah terjadi saat-saat ini.”(Syarh Shahih Muslim, 16: 220)

Tasyabbuh juga merupakan salah satu bentuk loyalitas kepada orang kafir, dengan menyerupai ciri-ciri khusus mereka baik dalam masalah agama atau tradisi. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memberikan peringatan yang sangat keras mengenai hal ini.  Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka. (HR. Ahmad 2: 50 dan Abu Daud no. 4031. Syaikhul Islam dalam Iqtidho‘ 1: 269 mengatakan bahwa sanad hadits ini jayyid/bagus. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih sebagaimana dalam Irwa’ul Gholil no. 1269)

Dari ‘Amr bin Syu’aib, dari ayahnya, dari kakeknya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَيْسَ مِنَّا مَنْ تَشَبَّهَ بِغَيْرِنَا

Bukan termasuk golongan kami siapa saja yang menyerupai selain kami (HR. Tirmidzi no. 2695. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan).

Ibnu Taimiyah dalam kitab lainnya berkata, “Sesungguhnya tasyabbuh (meniru gaya) orang kafir secara lahiriyah mewariskan kecintaan dan kesetiaan dalam batin. Begitu pula kecintaan dalam batin mewariskan tasyabbuh secara lahiriyah. Hal ini sudah terbukti secara inderawi atau eksperimen. Sampai-sampai jika ada dua orang yang dulunya berasal dari kampung yang sama, kemudian bertemu lagi di negeri asing, pasti ada kecintaan, kesetiaan dan saling berkasih sayang. Walau dulu di negerinya sendiri tidak saling kenal atau saling terpisah.” (Iqtidha’ Ash Shirothil Mustaqim, 1: 549).

Semoga hal ini bisa kita jadi bahan renungan, agar tidak bermudah-mudah dalam meniru perayaan orang kafir. Semoga Allah Ta’ala melindungi kita semua dari kesesatan dan menetapkan kita di atas jalan hidayah.

The Habaib – Media Islam dan Kajian Online

Leave a Reply

*