fbpx

Perang Fujjar & Hilful Fudhul

Pada saat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berusia 20 tahun, berkecamuklah Perang Fujjar antara kabilah Quraisy dan sekutu mereka dari Bani Kinanah melawan kabilah Qais Ailan. Harb bin Umayyah terpilih menjadi komandan perang membawahi kabilah Quraisy dan Kinanah secara umum karena faktor usia dan kebangsawanan. Kemenangan pada pagi hari berada di pihak kabilah Qais, namun pada pertengahan hari kemenangan justru berpihak pada Kinanah.

“Perang Fujjar”, dinamakan demikian karena dinodainya kesucian asy-syahrul haram (bulan yang dilarang perang di dalamnya). Dalam perang ini, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ikut serta dan membantu paman-pamannya menyediakan anak panah buat mereka.

|Baca juga: Sang Rahib Buhaira

Begitu perang tersebut usai, terjadilah Hilful Fudhul (perjanjian kebulatan tekad/sumpah setia) pada bulan Dzulqa’dah, di suatu bulan haram. Banyak Kabilah-kabilah Quraisy yang ikut berkumpul pada perjanjian tersebut yaitu Bani Hasyim, Bani al-Muththalib, Asad bin Abdul Uzza,  Zuhrah bin Kilab dan Taim bin Murrah. Mereka berkumpul di kediaman Abdullah bin Jad’an at-Taimi karna faktor usia dan kebangsawanannya. Dalam perjanjian tersebut, mereka bersepakat dan berjanji bahwa manakala ada orang yang dizhalimi di Makkah, baik dia penduduk asli maupun pendatang, maka mereka akan bergerak membelanya hingga haknya yang telah dizhalimi dikembalikan lagi kepadanya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam turut menghadiri perjanjian tersebut. Setelah beliau dimuliakan oleh Allah dengan Risalah, beliau berkomentar, “Sungguh aku telah menghadiri suatu hilf (perjanjian) di kediaman Abdullah bin Jad’an yang lebih aku sukai ketimbang aku memiliki humrun na’am (unta merah yang merupakan harta yang paling termahal dan menjadi kebanggaan bangsa Arab ketika itu, pent.). Andai di dalam Islam aku diminta untuk melakukan hal itu, niscaya aku akan memenuhinya.” (Ibnu Hisyam, ibid., hal. 113, 135; Mukhtashar Siratur Rasul, op.cit., hal. 30, 31).

Semangat perjanjian tersebut bertolak-belakang dengan hamiyyah jahiliyyah (egoisme jahiliyah) yang justru timbul dari sikap fanatisme (terhadap suku & keluarga).

Penyebab terjadinya perjanjian Fudhul (Hilful Fudhul) adalah karena seorang dari Kabilah Zabid di Yaman telah datang ke Makkah bersama barang dagangannya. Ia menjualnya kepada seorang bernama Al-‘Ash bin Wail As-Sahmi, akhirnya dia tidak bersedia membayarnya, kemudian dia melaporkannya kepada tokoh-tokoh Quraisy, tetapi tidak ada yang mau menolongnya. Kemudian dia naik ke gunung Abi Qubais, sementara tokoh Quraisy masih berkumpul di tempat mereka selalu berkumpul. Dia berteriak supaya haknya yang terzhalimi dikembalikan, akhirnya bangkitlah Az-Zubair bin Abdul Muththalib, dia berkata, “Orang seperti itu tidak mungkin dibiarkan terzhalimi.” Kemudian berkumpullah Banu Hasyim, Zuhrah, Banu Taim bin Murrah, di rumah Abdullah bin Jad’an, mereka bersumpah dan berjanji atas nama Allah untuk bersatu padu bersama orang yang terzhalimi itu hingga haknya dikembalikan.

Maka, orang-orang Quraisy menamakan perjanjian ini dengan Hilf Al-Fudhul. Dan mereka mengatakan, “Sungguh mereka telah masuk dalam sebuah perkara yang mulia, mereka akhirnya menemui Al-‘Ash bin Wail kemudian mengambil dengan paksa harta milik Az-Zabidi kemudian mengembalikannya kepada pemiliknya.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menghadiri perjanjian itu (umurnya pada waktu itu 20 tahun), mereka mengangkat panji-panji kebenaran dan menghancurkan simbol-simbol kezhaliman, kejadian itu adalah bagian dari kebanggaan bangsa Arab. 

“Hikmah dan Pelajaran”

  1. Sesungguhnya seorang muslim mesti adil walaupun terhadap musuhnya.
    Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam datang untuk menghadapi jahiliyah yang ada di kalangan Arab, tetapi Beliau tidak memusuhinya secara keseluruhan maupun secara rinci, yang akhirnya mengingkari semua bentuk kebaikan dari mereka. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam tetap mengakui kebenaran dari mereka walaupun termasuk orang yang memusuhinya, dan bahkan mereka mengumumkan perang sekalipun, Beliau tetap memuji perjanjian itu untuk memberikan pembelajaran kepada kita bagaimana kita harus bersikap adil dan menerima kebenaran dari orang lain, dan janganlah permusuhan menyebabkan kita berpura-pura tidak mengetahui kebaikan orang lain. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Saya diutus untuk menyempurnakan budi pekerti yang mulia.” (Ditakhrij oleh Al-Baihaqi dalam kitab Sunan Kubra, 10/192, dishahihkan oleh Al-Albani dalam kitab Shahih Al-Jami’ As-Shagir, 2/285, hadits nomor 2345). Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Dalam jahiliyah, ada akhlak yang baik dan dia datang untuk menyempurnakannya.” Dia tidak mengingkari kebaikan tersebut walaupun mereka memerangi dan memusuhinya.

  2. Seorang muslim adalah penyeru kepada kebaikan dan dia akan mendukung setiap yang mengajak kepada kebenaran.
    Setiap yang mengajak kepada kebaikan dalam lingkup masyarakat Islam adalah penolong dan partner baginya. Cobalah perhatikan tatkala Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam datang ke Madinah dan mendapatkan orang-orang Yahudi berpuasa ‘Asyura. Beliau bertanya, “Apa yang terjadi?” mereka berkata, “Ini adalah hari yang baik, hari ini adalah hari Allah menyelamatkan Bani Israil dari musuh mereka, maka Nabi Musa berpuasa dan kami pun mengikutinya.” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sayalah yang lebih berhak mengikuti Musa daripada kalian.” kemudian Rasulullah puasa dan memerintahkan umat Islam untuk puasa. (Bukhari, Shahih Al-Bukhari bersama Al-Fathu, 4/244, nomor 2004).
    Jika kamu melihat ada orang yang mengajak kepada kebaikan dalam masyarakat Islam, maka jadilah orang pertama yang membantu dan menolongnya. Dakwah Islam datang untuk mengajarkan umat Islam agar selalu menyantuni sesama pengajak kepada kebaikan, dan tidak bisa hanya merasa cukup dengan apa yang dia lakukan sendiri kemudian mengabaikan apa yang telah dilakukan oleh orang lain (Lihat Al-Kurdi, Syu’a’ As-Sirah, hal. 43).
    Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam Shulh Al-Hudaibiyah bersabda, “Demi Allah Yang jiwaku ada di Tangan-Nya, tidaklah mereka meminta kepadaku suatu rancangan yang mereka mengagungkan Allah di dalamnya melainkan aku pasti mengabulkannya.” (Bukhari, dalam kitab Shahih yang dicetak bersama Al-Fathu, 5/329 nomor 2731).
    Ibnu Al-Qayyim berkata, “Sesungguhnya orang-orang musyrik, pelaku bid’ah, dan pelaku maksiat, pembangkang, dan pelaku kezhaliman, bila mereka mengajukan permohonan yang bertujuan mengagungkan aturan-aturan Allah, maka permintaannya mesti diterima dan harus dibantu, walaupun yang lain enggan melakukan itu. Mereka didukung dalam rangka mengagungkan aturan Allah bukan karena kemaksiatan orang itu, karena setiap yang mengajukan bantuan untuk masalah yang dicintai Allah dan diridhai-Nya, maka harus dikabulkan, selama tidak berkonsekuensi lahirnya sesuatu yang dimurkai Allah. Ini adalah kondisi yang sensitif dan tentunya susah serta berat secara kejiwaan.” (Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, Zad Al-Ma’ad, 3/303).

Diringkas dari Sumber Buku:
Ar-Rahiq al-Makhtum (Sirah Nabawiyah Perjalanan Hidup Rasul yang Agung Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, edisi revisi); Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri (Penerbit Darul Haq, Jakarta).
Fikih Sirah Nabawiyah; Prof. Dr. Zaid bin Abdul Karim Az-Zaid (Penerbit Darus Sunnah, Jakarta)

Nantikan Episode selanjutnya ya. in syaa Allah kita semua diberi rizki umur dalam keberkahan. Aamiin.
Mari bersholawat atas Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Mari mempelajari perjalanan hidup suri teladan kita Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

The Habaib – Media Islam dan Kajian Online

Artikel atau Video dapat Follow | Like | Subscribe | Share
📷Instagram: @thehabaib
📲 Telegram : @thehabaib
📑 Facebook: thehabaib
▶️ Youtube: thehabaib

Leave a Reply

*