fbpx

Pentingnya Berilmu Sebelum Beramal

Agama Islam ialah ajaran yang paling rasional dan mudah diterima manusia. semua yang diajarkan memiliki dalil yang shohih, bersumber dari Al Quran dan hadist .Di kala berargumentasi mempertahankan ajarannya, terutama teologi, pensyarah-pensyarah Islam selalu lebih kokoh bangunan logikanya dibanding yang lain.

Demikian salah satu bukti bahwa ajaran Islam selaras dengan perkembangan ilmu pengetahuan manusia. Dengan kata lain: Islam mendorong kemajuan berpikir. Kata-kata bermakna seperti “tidakkah kamu berpikir”, “sedikit sekali orang yang berpikir”, “apakah kamu tidak menggunakan akalmu”, dan seterusnya, secara statistik juga banyak disebut dalam kitab suci kita Al Qur’anul karim. Ini semua juga ada kaitannya dengan amal ibadah yang kita laksanakan.

Imam Bukhari rahimahullah berkata, “Bab ‘Ilmu Sebelum Berkata dan Beramal’, dalilnya adalah firman Allah Ta’ala (yang artinya), ‘Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada Ilah (sesembahan, tuhan) selain Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu’.” (QS. Muhammad: 19). Dalam ayat ini, Allah memulai dengan berilmu lalu beramal.

Amirul Mukminin dalam bidang hadits yakni Imam Bukhari menyatakan dalam kitabnya Shahih Al-Bukhari, Bab “Al-‘Ilmu Qabla Al-Qaul wa Al-‘Amal” (ilmu sebelum berkata dan beramal). Lantas beliau menyebutkan dalil yang menunjukkan bahwa kita mesti berilmu dahulu sebelum beramal. Tidaklah sah suatu amalan yang tidak didasari ilmu terlebih dahulu. Orang yang beramal tanpa ilmu, itulah yang mirip dengan kaum Nashrani.

Syaikh ‘Abdullah Al-Fauzan menjelaskan sebagai berikut.

Kalimat “فَاعْلَمْ أَنَّهُ لاَ إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ” menunjukkan perintah untuk berilmu dahulu. Sedangkan kalimat “وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ” menunjukkan amalan.

Surah Muhammad ayat 19 sekaligus menunjukkan keutamaan berilmu.

Abu Nu’aim dalam kitab Hilyah Al-Auliya’ (7:305) dari Sufyan bin ‘Uyainah ketika ditanya mengenai keutamaan ilmu, ia menyatakan, “Tidakkah engkau mendengar firman Allah Ta’ala ketika memulai dengan ‘فَاعْلَمْ أَنَّهُ لاَ إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ’ artinya dimulai dengan ilmu, baru setelah itu disebutkan perintah untuk beramal pada ‘وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ’.

Kesimpulannya surah Muhammad ayat 19 menunjukkan:

  1. Keutamaan ilmu.
  2. Berilmu lebih didahulukan daripada beramal.

Akibat Beramal Tanpa Ilmu

Syaikh Ibnu Qasim rahimahullah berkata, “Perkataan dan amalan manusia tidaklah benar sampai ia mendasarinya dengan ilmu.” Dalam hadits disebutkan,

مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ

Siapa yang beramal tanpa dasar dari kami, maka amalan tersebut tertolak (HR. Muslim 1718)

Dengan demikian jelaslah bahwa sebagai umat Islam kita harus senantiasa beriman, berilmu, dan beramal. Seperti kata pepatah: ilmu tanpa amal adalah sia-sia, sedangkan beramal tanpa ilmu adalah celaka. Semoga tulisan ini mendorong kita untuk mendasarkan amalan kita dengan ilmu.

Referensi :

Hasyiyah Tsalatsah Al-Ushul. Syaikh ‘Abdurrahman bin Muhammad bin Qasim Al-Hambali An-Najdi

Hushul Al-Ma’mul bi Syarh Tsalatsah Al-Ushul. Syaikh ‘Abdullah bin Shalih Al-Fauzan

Syarh Tsalatsah Al-Ushul wa Adillatuhaa wa Al-Qawa’id Al-Arba’. Haytsam bin Muhammad Jamil Sarhan

Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim. Ibnu Katsir. Tahqiq: Prof. Dr. Hikmat bin Baysir bin Yasin

Leave a Reply

*