fbpx

Menikah dengan Khadijah

Di permulaan masa mudanya, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak memiliki pekerjaan tetap, hanya saja banyak riwayat menyebutkan beliau bekerja sebagai penggembala kambing, bahkan menggembalakannya di perkampungan kabilah Bani Sa’ad (Ibnu Hisyam, ibid., hal. 166). Disebutkan juga, bahwa beliau menggembalakan kambing milik penduduk Makkah dengan upah harian sebesar beberapa qirath[1] (bagian dari uang dinar). Selain itu, juga disebutkan bahwa ketika berusia 25 tahun, beliau pergi berdagang ke negeri Syam dengan modal dari Khadijah radhiyallahu ‘anha.

Ibnu Ishaq berkata,
“Khadijah bin Khuwailid adalah seorang saudagar wanita keturunan bangsawan & kaya raya. Dia mempekerjakan tenaga laki-laki dan melakukan sistem bagi hasil terhadap harta (modal) tersebut sebagai keuntungan untuk mereka nantinya. Kabilah Quraisy dikenal sebagai kaum pedagang handal. Tatkala sampai ke telinga Khadijah perihal kejujuran bicara, amanah dan akhlak Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mulia, dia mengutus seseorang untuk menemui dan menawarkan kepadanya untuk memperdagangkan harta miliknya tersebut ke negeri Syam dengan imbalan yang paling istimewa yang tidak pernah diberikan kepada para pedagang lainnya, dengan didampingi seorang budak laki-laki milik Khadijah yang bernama Maisarah. Beliau menerima tawaran tersebut dan berangkat dengan barang-barang dagangan Khadijah bersama budak tersebut hingga sampai di negeri Syam.” (Ibnu Hisyam, ibid., hal. 187,188).

|Baca juga: Perang Fujjar & Hilful Fudhul

Ketika beliau pulang ke Makkah dan Khadijah melihat betapa amanahnya beliau terhadap harta yang diserahkan kepadanya, begitu juga dengan keberkahan dari hasil perdagangan yang belum pernah didapatinya sebelum itu, ditambah lagi informasi dari budaknya, Maisarah perihal budi pekerti beliau nan demikian manis, sifat-sifat yang mulia, ketajaman berpikir, cara bicara yang jujur dan cara hidup yang penuh amanah, maka dia seakan menemukan apa yang didambakannya selama ini (yakni, calon pendamping idaman, pent.). Padahal, banyak sekali para pemuka dan kepala suku yang demikian antusias untuk menikahinya, namun semuanya dia tolak. Akhirnya dia menyampaikan curahan hatinya kepada teman wanitanya, Nafisah binti Muniyah yang kemudian bergegas menemui beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam dan membeberkan rahasia tersebut kepadanya seraya menganjurkan agar beliau menikahi Khadijah. Beliau pun menyetujuinya dan merundingkan hal tersebut dengan paman-pamannya. Kemudian mereka mendatangi paman Khadijah untuk melamarnya buat beliau. Tak berapa lama setelah itu, pernikahan dilangsungkan. Akad tersebut dihadiri oleh Bani Hasyim dan para pemimpin suku Mudhar. Pernikahan tersebut berlangsung 2 bulan setelah kepulangan beliau dari negeri Syam. Beliau menyerahkan mahar sebanyak 20 ekor unta muda. Ketika itu, Khadijah sudah berusia 40 tahun. Dia adalah wanita yang paling terhormat nasabnya, paling banyak hartanya dan paling cerdas otaknya di kalangan kaumnya. Dialah wanita pertama yang dinikahi oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau tidak pernah memadunya dengan wanita lain hingga dia wafat.

Semua putra-putri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berasal dari pernikahan beliau dengan Khadijah kecuali putra beliau Ibrahim. Putra-putri beliau dari hasil perkawinan dengan Khadijah adalah:
1. Al-Qasim (dengan nama ini beliau dijuluki)
2. Zainab
3. Ruqayyah
4. Ummu Kultsum
5. Fathimah
6. Abdullah (julukannya adalah Ath-Thayyib [yang baik] dan Ath-Thahir [yang suci]).
Semua putra beliau meninggal dunia di masa kanak-kanak, sedangkan putri-putri beliau semuanya hidup pada masa Islam dan memeluk Islam serta juga ikut berhijrah, namun semuanya meninggal dunia semasa beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam masih hidup kecuali Fathimah radhiyallahu ‘anha yang meninggal dunia 6 bulan setelah beliau wafat.[2]

Banyak riwayat menceritakan tentang tata cara khitbah (Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam atas Khadijah) berlangsung, serta siapa yang melangsungkan akad nikahnya. Namun, sebagian besar riwayat mengatakan bahwa yang melangsungkan akad nikah adalah paman Khadijah bernama Amr bin Sa’ad. Sebelum menikah dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, Khadijah telah menikah 2 kali, suaminya yang pertama bernama ‘Atiq bin ‘Aidz Al-Makhzumi dan yang kedua  bernama Abu Halah bin An-Nabbasy At-Tamimi.[3]

“Keutamaan Khadijah binti Khuwailid radhiyallahu ‘anha”

  1. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

خَيْرُ نِسَائِهَا مَرْيَمُ ابْنَةُ عِمْرَانَ ، وَخَيْرُ نِسَائِهَا خَدِيجَةُ

“Sebaik-baik wanita (pada zamannya) adalah Maryam binti Imran, dan sebaik-baik wanita (pada umat ini) adalah Khadijah.” (Muttafaq ‘alaihi, Shahih Al-Bukhari, 6/470, hadits no. 2432. Shahih Muslim, 4/1886, hadist no. 2430) Waki’ menunjuk ke arah langit dan bumi.

An-Nawawi berkata, “Yang dimaksudkan dengan Waki’ dengan menunjuk (ke arah langit dan bumi) itu adalah makna dhamir (kata ganti) ha pada kata Nisaiha, untuk semua wanita yang ada di muka bumi atau semua wanita yang ada di antara langit dan bumi, dan yang paling kuat dari maksud itu adalah masing-masing dari mereka berdua adalah sebaik-baiknya wanita yang ada di bumi pada zamannya, adapun dalam mengunggulkan satu di antara mereka berdua adalah masalah yang didiamkan. Al-Qhadhi berkata, “Ada kemungkinan bahwa maksudnya adalah mereka berdua itulah sebaik-baiknya wanita di muka bumi ini. Adapun yang benar adalah pengertian yang pertama.” (An-Nawawi, Syarah Shahih Muslim, 15/198).

2. Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata,
“Saya tidak pernah cemburu terhadap istri-istri Nabi, kecuali dengan Khadijah walaupun saya belum pernah bertemu dengannya.”Aisyah berkata, “Kalau Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memotong kambing, beliau selalu berkata, “Berikan sebagian kepada teman-teman Khadijah”, suatu hari saya membuat beliau marah karena saya berkata, “Khadijah?” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Saya telah dikaruniai kecintaan kepadanya”.” (Shahih Muslim, 4/1888, hadits no. 2435).
An-Nawawi rahimahullah berkata, “Kata beliau ‘Saya telah dikaruniai kecintaan kepadanya’, terdapat isyarat bahwa cintanya itu adalah sebuah anugerah yang didapat.” (Syarah Shahih Muslim, 15/201).

3. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata,

أَتَى جِبْرِيلُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ هَذِهِ خَدِيجَةُ قَدْ أَتَتْكَ مَعَهَا إِنَاءٌ فِيهِ إِدَامٌ أَوْ طَعَامٌ أَوْ شَرَابٌ فَإِذَا هِيَ أَتَتْكَ فَاقْرَأْ عَلَيْهَا السَّلَامَ مِنْ رَبِّهَا عَزَّ وَجَلَّ وَمِنِّي وَبَشِّرْهَا بِبَيْتٍ فِي الْجَنَّةِ مِنْ قَصَبٍ لَا صَخَبَ فِيهِ وَلَا نَصَبَ

“Jibril telah mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, dia berkata, “Wahai Rasul Allah, inilah Khadijah datang menemui kamu dengan membawa bejana yang berisi hidangan makanan dan minuman. Jika dia telah datang, maka sampaikan salam Allah Azza wa Jalla dan salam saya, dan beritakan kabar gembira kepadanya dengan surga dari permadani yang luas seperti istana, yang di dalamnya tidak terdapat susah dan letih”.” (Syarah Shahih Muslim, An-Nawawi, 15/571-572. Lihat haditsnya pada Shahih Muslim, 4/1887, hadist no. 2432)

Khadijah radhiyallahu ‘anha adalah orang yang beriman kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tatkala manusia kafir kepadanya. Dia yang mempercayainya tatkala umat manusia mengingkarinya dan mengucurkan hartanya tatkala manusia tidak mau memberikan hartanya dan dialah istrinya yang melahirkan anak-anak untuknya.

Ibnu Hajar rahimahullah berkata, “Yang menjadikan dia mulia adalah karena dia wanita pertama yang beriman. Dengan demikian, dia telah membuat sunnah yang baik, yang pahalanya akan mengalir kepadanya sebagai amal jariyah, dan Abu Bakar dalam hal ini menjadi pelaku sunnah yang baik dari kalangan laki-laki dan tidak ada yang bisa mengukur nilai pahala kebaikan itu, kecuali Allah Azza wa Jalla.” (Ibnu Hajar, Fathu Al-Bari, 7/137).

FOOT NOTES:
[1] Shahih al-Bukhari, Kitab al-Ijarat, Bab Ra’yul Ghanam Ala Qararith (2262). Untuk mengetahui perbedaan pendapat seputar makna Qirath, bisa didapatkan dalam kitab Fath al-Bari pada penjelasan tentang hadits tersebut, pent.
[2] Ibnu Hisyam, op.cit., hal. 189,191; Fath al-Bari, op.cit., 7/507; Talqih, op.cit., hal.7. Di antara sumber-sumber tersebut terdapat perbedaan ringan dan yang kami ambil adalah yang menurut hemat kami lebih kuat.
[3] Lihat As-Syami, Subul Al-Huda Wa Ar-Rasyad, 2/222, Al-Qasythalani, Al-Mawahib Al-Laduniah, 1/190,191, Al-Hakim, Al-Mustadrak, 3/182, Adapun tentang umur Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan umur Khadijah radhiyallahu ‘anha terdapat perbedaan pendapat, tetapi yang saya sebutkan itulah yang menjadi pendapat mayoritas.

Diringkas dari Sumber Buku:
Ar-Rahiq al-Makhtum (Sirah Nabawiyah Perjalanan Hidup Rasul yang Agung Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, edisi revisi); Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri (Penerbit Darul Haq, Jakarta).
Fikih Sirah Nabawiyah; Prof. Dr. Zaid bin Abdul Karim Az-Zaid (Penerbit Darus Sunnah, Jakarta)

Nantikan Episode selanjutnya ya. in syaa Allah kita semua diberi rizki umur dalam keberkahan. Aamiin.
Mari bersholawat atas Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Mari mempelajari perjalanan hidup suri teladan kita Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

The Habaib – Media Islam dan Kajian Online

Artikel atau Video dapat Follow | Like | Subscribe | Share
📷Instagram: @thehabaib
📲 Telegram : @thehabaib
📑 Facebook: thehabaib
▶️ Youtube: thehabaib

Leave a Reply

*