fbpx

Membangun Ka’bah

Ibnu Hajar berkata, “Diriwayatkan oleh Abdul Razzaq, Al-Hakim, dan At-Thabrani bahwa Ka’bah pada zaman jahiliyah dibangun dengan batu-batu yang bertumpukan tanpa ada tanah liat atau semacam semen yang mengikat batu-batu itu, ia seukuran apa yang dimasuki oleh anak kambing, berbentuk seperti lingkaran huruf D.”[1]

Ka’bah pada waktu itu (tidak diberi atap), kainnya ditutupkan di atasnya lalu terurai ke bawah, dan memiliki dua sudut. Rumah-rumah penduduk mengelilingi Ka’bah. Pada riwayat Bukhari dari Amr bin Dinar dan Ubaidillah bin Abi Yazid berkata, “Pada zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Ka’bah tidak memiliki tembok yang mengelilinginya, hingga tibalah masa Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu dan membangun sekelilingnya tembok penghalang, Ubaidillah berkata, ‘Dinding Ka’bah pendek kemudian dibangun oleh Ibnu Az-Zubair’.” (Shahih Al-Bukhari dengan Fathu Al-Bari, 7/146. Hadits no. 3830). Oleh karena itu, apabila hujan datang, maka selalu berhadapan dengan air deras yang mengalir dari gunung Makkah, karena tidak ada tembok di sekelilingnya yang bisa menghalaunya.

|Baca juga: Menikah dengan Khadijah

Pada saat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam berusia 35 tahun, kabilah Quraisy membangun kembali Ka’bah karena kondisi fisiknya sebelum itu hanyalah berupa tumpukan-tumpukan batu berukuran di atas tinggi badan manusia, yaitu setinggi 9 hasta sejak dari masa Ismail ‘alaihis salam dan tidak memiliki atap sehingga yang tersimpan di dalamnya dapat dicuri oleh segerombolan pencuri.

Di samping itu, karena merupakan peninggalan sejarah yang berumur tua, Ka’bah sering diserang oleh pasukan berkuda sehingga merapuhkan bangunan & merontokkan sendi-sendinya. Hal lainnya, 5 tahun sebelum beliau diutus menjadi Rasul, Makkah pernah dilanda banjir bandang, airnya meluap dan mengalir ke Baitul Haram sehingga mengakibatkan bangunan Ka’bah hampir ambruk. Orang-orang Quraisy terpaksa merenovasi bangunannya demi menjaga pamornya & bersepakat untuk tidak membangunnya kecuali dari sumber usaha yang baik. Mereka tidak mau mengambilnya dari dana mahar yang didapat secara zhalim, transaksi ribawi dan hasil tindak kezhaliman terhadap seseorang.

Semula mereka merasa segan untuk merobohkan bangunannya hingga akhirnya diprakarsai oleh Al-Walid bin Al-Mughirah Al-Makhzumi. Setelah itu, barulah orang-orang mengikutinya setelah melihat tidak terjadi apa-apa terhadap dirinya. Mereka terus melakukan perobohan hingga sampai ke pondasi pertama yang diletakkan oleh Ibrahim ‘alaihis salam. Kemudian, Mereka memulai membangun kembali dengan cara membagi-bagi per bagian bangunan Ka’bah, yaitu masing-masing kabilah mendapat 1 bagian. Setiap kabilah mengumpulkan sejumlah batu sesuai dengan jatah masing-masing, lalu dimulailah pembangunannya. Sedangkan yang menjadi pimpinan proyeknya adalah seorang arsitek asal Romawi bernama Baqum. Tatkala pengerjaan sampai kepada peletakan Hajar Aswad, mereka bertikai mengenai siapa yang berhak mendapat kehormatan meletakkannya ke tempat semula dan pertikaian tersebut berlangsung selama 4 atau 5 malam. Bahkan semakin meruncing hingga hampir terjadi peperangan yang maha dahsyat di tanah al-Haram. Untunglah, Abu Umayyah bin Al-Mughirah Al-Makhzumi menawarkan penyelesaian pertikaian di antara mereka lewat satu cara, yaitu menjadikan pemutus perkara tersebut kepada siapa yang paling pertama memasuki pintu masjid. Tawaran ini dapat diterima oleh semua pihak dan atas kehendak Allah Ta’ala, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lah orang yang pertama memasukinya. Tatkala melihatnya, mereka saling menyeru, “Inilah Al-Amin (orang yang amanah)!” Kami rela! Inilah Muhammad!” Dan ketika beliau mendekati mereka dan mereka memberitahukan kepadanya tentang hal tersebut, beliau meminta sehelai selendang dan meletakkan Hajar Aswad di tengah-tengahnya, lalu meminta agar semua kepala kabilah yang bertikai memegangi ujung-ujung selendang tersebut dan memerintahkan mereka untuk mengangkatnya tinggi-tinggi hingga manakala mereka telah mengangkatnya sampai ke tempatnya, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengambilnya dengan tangannya dan meletakkannya di tempatnya semula. Ini merupakan solusi yang tepat dan jitu yang membuat semua pihak rela.

Namun, orang-orang Quraisy kekurangan dana dari sumber usaha yang baik sehingga mereka harus meninggalkan pembangunan Ka’bah sekitar 6 hasta dari bagian utara Ka’bah, yaitu yang dinamakan Hijr Ismail dan Al-Hathim lalu mereka meninggikan pintunya yang semula berada di tanah agar tidak ada orang memasukinya kecuali orang yang mereka kehendaki. Tatkala pembangunan mencapai 15 hasta, mereka mengatapinya dan menyangganya dengan 6 buah tiang.

Setelah proyek renovasi selesai, Ka’bah tersebut berubah menjadi hampir berbentuk kubus dengan tinggi +- 15 meter, panjang sisi yang berada di bagian Hajar Aswad adalah 10 meter & bagian depan yang berhadapan dengannya juga 10 meter. Hajar Aswad sendiri dipasang di atas ketinggian 1,5 meter dari permukaan lantai dasar thawaf. Adapun panjang sisi yang berada di bagian pintu depan yang sehadapan dengannya adalah 12 meter, sedangkan tinggi pintunya adalah 2 meter dari atas permukaan tanah. Dan dari bagian luarnya dikelilingi oleh tumpukan batu bangunan, tepatnya di bagian bawahnya, tinggi rata-ratanya adalah 0,25 meter dan lebar rata-ratanya 0,30 meter. Bagian terakhir ini dikenal dengan nama Asy-Syadzirwan yang merupakan bagian dari pondasi asal Ka’bah akan tetapi orang-orang Quraisy membiarkannya.[2]

Dari Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhuma berkata, “Tatkala Ka’bah dibangun Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pergi bersama Al-Abbas radhiyallahu ‘anhu; mereka berdua mengangkat batu, kemudian Al-Abbas berkata kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ‘Letakkan sarung kamu di atas pundakmu agar batu tidak melukaimu, tetapi tiba-tiba dia terjatuh ke tanah dan matanya melihat ke langit, dan setelah tersadar dia berkata, ‘Sarungku, sarungku’, kemudian Al-Abbas menutupkan kembali sarungnya.” (Shahih Al-Bukhari bersama Al-Fathu, Kitab Manaqib Al-Anshar bab Bunyan Al-Ka’bah, 7/145).

“Hikmah & Pelajaran”

  1. Ketika mereka membuat aturan supaya tidak menginfakkan untuk pembangunan Ka’bah harta yang haram hasil prostitusi, kezhaliman, dan riba, menunjukkan bahwa orang Arab memahami tentang kejinya memakan riba. Itulah sebabnya mereka tidak menerimanya dalam pembangunan Ka’bah, lalu komentar apa yang akan kita katakan terhadap fenomena ini kepada mereka sebelum datangnya cahaya Islam yang berupaya untuk tidak melibatkan harta yang haram dari transaksi riba dalam neraca kehidupan mereka. Sementara sekarang setelah datangnya cahaya Islam, setelah harta sudah melimpah ruah, ternyata transaksi riba semakin semarak dalam kehidupan masyarakat Islam dan telah menjadi masalah yang tidak diingkari lagi. Bahkan sebagian umat Islam malah menjadi pemilik saham pada bank konvensional yang produk utamanya adalah transaksi riba. Orang kafir Makkah sepakat tentang haramnya riba. Mereka mengantisipasi harta riba itu jangan sampai masuk ke dalam pembangunan Ka’bah. Sementara di antara umat Islam, ada yang memasukkan bagian dari makanan dan minumannya dari harta riba, biaya makan dan tempat tinggal anak-anak mereka dari harta riba. Kalau demikian masalahnya, lalu apa yang baru yang telah dibawakan oleh Islam kepada kita, kalau ternyata kita masih mengabaikan masalah yang pada zaman jahiliyah saja dihindari. Riba itu adalah perang orang Yahudi terhadap harta kita, hingga harta menjadi penyebab seorang lupa dengan aturan agamanya, menyebabkan urusan agama mereka ternodai dengan harta yang haram.

  2. Bisa saja terlintas dalam benak seorang bahwa jalan keluar yang diambil oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah mudah dan biasa-biasa saja. Akan tetapi, kalau kita perhatikan masalahnya yaitu tokoh Quraisy telah larut dalam masalah itu selama tiga hari dan telah bersepakat untuk melangsungkan peperangan dan sama sekali tidak terlintas dalam benak mereka jalan keluar seperti itu, hingga datanglah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, sementara dia adalah yang paling muda usianya, ternyata melalu dialah lahir ide itu, dan semua merasakan keterlibatan dalam meletakkan Hajar Aswad, hingga perang saudara dapat terelakkan. Semua itu menunjukkan keistimewaan kepribadian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

  3. Pandangan kolektif yang lahir dari orang-orang Quraisy tatkala mereka berada di sekitar Ka’bah, dan Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam datang dengan berkata, “Kami setuju, telah datang orang yang jujur, kami ridha telah datang Muhammad”, Penilaian mereka itu terhadap Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam mesti kita komentari dengan berkata:
    – Menjadikan orang lain terpesona sangat penting dalam rangka agar orang itu bisa mendengarkan apa yang kita katakan, dan itu membutuhkan kebersamaan, mengenal karakter manusia. Semua itu adalah bagian dari prinsip-prinsip dasar seorang da’i.
    – Penyebab paling utama dalam mempengaruhi orang lain adalah akhlak dan moral. Akhlak dan moral Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebabkan mereka menerima beliau; senang tatkala melihatnya, bergembira karena dia menjadi perantara dalam masalah yang mereka hadapi, ridha dan menerima sebelum dan setelah dia memutuskan.

  4. Hadits ini menjelaskan kedudukan Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam pada kaumnya, mereka semua menerimanya. Hal tersebut nampak dari perkataan mereka, “Kami ridha, telah datang orang yang terpercaya”. Peristiwa tersebut terjadi sebelum diangkat jadi Nabi, tetapi setelah diangkat jadi Nabi, maka pengakuan tersebut berbalik menjadi “pembohong, tukang sihir, dan dukun.” Artinya, ketika dia berbicara masalah dunia, mereka mengakuinya jujur dan diterima, tetapi tatkala berbicara masalah agama mereka, maka berubahlah, seorang yang terpercaya menjadi pembohong, tukang sihir, dan dukun. Pernyataan mereka itu memakan diri mereka sendiri.
    Selain itu, ada pelajaran yang berarti yaitu tatkala seorang da’i berhadapan dengan manusia dalam urusan agama dan keyakinan, maka mereka itu tidak akan berdiam diri. Kalau yang dijuluki sebagai terpercaya dan jujur saja kemudian berubah julukannya menjadi pembohong dan tukang sihir, lalu bagaimana dengan orang yang tidak pernah mendapat julukan seperti itu? Oleh karena itu, tidak perlu gusar dan tidak perlu terpengaruh ketika mendengar kata-kata atau julukan-julukan yang dialamatkan kepadanya, karena ia berbicara tentang agama mereka.

  5. Telah kita katakan sebelumnya bahwa pada kisah Tentara Bergajah menjadikan Quraisy terkemuka dan mencuat ke permukaan dibandingkan dengan kabilah lainnya dan semenjak itu, Quraisy menjadi simbol di antara kalangan bangsa Arab karena adanya bentuk perlindungan Allah kepada mereka. Sementara pada hari pembangunan Ka’bah legenda kedua yang muncul adalah hadirnya seorang Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.
    Pada kasus Tentara Bergajah adalah penobatan Quraisy sebagai pahlawan legendaris dan pada kasus pembangunan Ka’bah adalah penobatan Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai pahlawan legendaris yang memiliki keutamaan lebih di atas tokoh-tokoh Quraisy. Semua itu sebagai pengantar kenabian yang sebentar lagi akan tiba. Muhammad Abu Syahbah dalam sirah berkata, “Pada kasus pembangunan Ka’bah itu, Muhammad menjadi terkenal, beliau mendapatkan penghormatan, kedudukannya berada di atas mereka, dan menjadi nama yang diperbincangkan oleh Arab pada setiap majlis dan perkumpulan mereka.”[3]

  6. Peristiwa pembangunan Ka’bah adalah pengantar dari akan datangnya kenabian, orang yang menghalangi munculnya pertumpahan darah pada hari ini, maka dialah yang akan menghalau pertumpahan darah pada hari esok, dan yang mampu mengumpulkan dan mempersatukan manusia setelah mereka berpecah-belah. Oleh karena itu, dialah yang akan mempersatukan bangsa Arab dan yang akan menyatukan mereka dengan umat lainnya di bawah bendera keislaman dengan izin Allah Ta’ala.

  7. Apa yang terjadi pada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika bersama pamannya Al-Abbas radhiyallahu ‘anhu tatkala meletakkan sarung di atas pundaknya kemudian terjatuh setelah itu, menunjukkan adanya penjagaan Allah terhadapnya semenjak kecil. Ibnu Hajar berkata, “Ibnu Ishak menyebutkan pada masa kenabian, dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam seperti yang diberitakan kepada saya telah terjadi pada dirinya bentuk penjagaan Allah semenjak kecil…”.[4] kemudian dia menyebutkan kisahnya.

FOOT NOTES:
[1] Lihat Ibnu Hajar, Fathu Al-Bari, 3/441, dan An-Nuhayah Fi Garibilhadits, 2/231, 4/309. Lihat Majma’ Zawaid: 5729; Musnad Ishaq ibn Rahawaih: 1717. Ed).
[2] Mengenai rincian pembangunan Ka’bah, lihat Sirah Ibnu Hisyam, op.cit., 12/192-197; Tarikh ath-Thabari, op.cit., 2/289 dan halaman sesudahnya; Shahih al-Bukhari, bab Fadhlu Makkah Wa Bunyanuha, 1/215; Muhadharat Tarikh al-Umam al-Islamiyah, op.cit., 1/64, 65.
[3] Muhammad Abu Syahbah, As-Sirah An-Nabawiyah, hal. 229.
[4] Ibnu Hajar, Fathu Al-Bari, 7/146.

Diringkas dari Sumber Buku:
Ar-Rahiq al-Makhtum (Sirah Nabawiyah Perjalanan Hidup Rasul yang Agung Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, edisi revisi); Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri (Penerbit Darul Haq, Jakarta).
Fikih Sirah Nabawiyah; Prof. Dr. Zaid bin Abdul Karim Az-Zaid (Penerbit Darus Sunnah, Jakarta)

Nantikan Episode selanjutnya ya. in syaa Allah kita semua diberi rizki umur dalam keberkahan. Aamiin.
Mari bersholawat atas Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Mari mempelajari perjalanan hidup suri teladan kita Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

The Habaib – Media Islam dan Kajian Online

Artikel atau Video dapat Follow | Like | Subscribe | Share
📷Instagram: @thehabaib
📲 Telegram : @thehabaib
📑 Facebook: thehabaib
▶️ Youtube: thehabaib

Leave a Reply

*