fbpx

logo jangan ada salibnya

Kita hidup di masa dimana semua serba menggunakan tulisan, gambar dan logo. Setiap perusahaan, yayasan, komunitas bahkan individu berlomba-lomba memiliki logo. Logo tersebut kadang sarat dengan gambar dan slogan-slogan penuh makna. Misalnya ketika mendirikan yayasan, membuka cafe, klub sepakbola, alumni sekolah atau kampus, kelompok pengajian, bahkan grup WhatsApp biasa. Dalam menentukan logo atau slogan ialah hal penting yang sarat makna, bukan sekedar grafis belaka, bahkan ada ilmu tersendiri dimana mengatur mengenai jenis huruf, bentuk garis dan warnanya didalam dunia marketing technique.

Contoh fenomena yang sempat ramai, adalah perihal logo perayaan HUT RI ke 75 tahun kemarin, yang ditengarai menyerupai salib. Terjadi perdebatan pada khalayak antara membolehkan dan yang tidak membolehkan dengan berbagai alasan. Cara kita menyikapinya adalah dengan mengembalikan ke tuntunan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Pembahasan kita berkaitan dengan logo atau gambar salib yang berkaitan erat dengan simbol nasrani. Apakah agama kita mengatur perihal tersebut dan penting untuk kita ketahui bagaimana Islam memandang simbol salib. Apa boleh dibiarkan? Atau dianjurkan untuk menghapus? Lantas bagaimana pula tanda plus seperti pada simbol palang merah? Apakah kedudukannya sama dengan salib? lalu tanda plus di rumus matematika ?

Perintah Menghapus Salib

Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata,

أَنَّ النَّبِىَّ – صلى الله عليه وسلم – لَمْ يَكُنْ يَتْرُكُ فِى بَيْتِهِ شَيْئًا فِيهِ تَصَالِيبُ إِلاَّ نَقَضَهُ

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah meninggalkan salib di rumahnya melainkan beliau menghapusnya (HR. Bukhari no. 5952)

Imam Bukhari membawakan hadits di atas pada Bab “Menghapus shuwar (gambar)”. Maksud dari Imam Bukhari bukanlah hanya menghapus gambar atau patung makhluk bernyawa. Salib juga termasuk di dalamnya dan lebih daripada itu karena salib dijadikan sesembahan selain Allah. Yang dimaksud naqodh dalam hadits adalah menghilangkan atau menghapus. (Lihat Fathul Bari karya Ibnu Hajar, 10: 385).

Seorang Muslim Tidak Boleh Membuat Salib

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata,

وَالصَّلِيبُ لَا يَجُوزُ عَمَلُهُ بِأُجْرَةِ وَلَا غَيْرِ أُجْرَةٍ وَلَا بَيْعُهُ صَلِيبًا كَمَا لَا يَجُوزُ بَيْعُ الْأَصْنَامِ وَلَا عَمَلُهَا . كَمَا ثَبَتَ فِي الصَّحِيحِ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ : ” { إنَّ اللَّهَ حَرَّمَ بَيْعَ الْخَمْرِ وَالْمَيْتَةَ وَالْخِنْزِيرَ وَالْأَصْنَامَ }

Tidak boleh seorang muslim membuat salib untuk mendapatkan upah. Tidak boleh pula seorang muslim menjual salib sebagaimana tidak boleh menjual berhala begitu pula membuatnya. Sebagaimana disebutkan dalam hadits yang shahih, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah mengharamkan jual beli khamar, bangkai, babi dan ashnam (berhala). (Majmu’ Al Fatawa, 22: 141-142)

Apakah Tanda Plus Termasuk Bentuk Salib ?

kalo kita buka di Wikipedia atau di Google, akan kita temukan berbagai macam model salib, lalu bentuk salib seperti apa yang dihapus ? apakah tanda plus juga musti dihapus ? lalu bagaimana nasib kita ketika melakukan perhitungan matematika ? jawabannya :

1- Model pertama : Yang tidak boleh, yaitu bentuk salib pada umumnya yang sudah diketahui semua orang yaitu adalah salib, seperti yang ada di gereja dan dipakai oleh kaum Nasrani dalam upacara keagamaannya. Berupa dua garis yang dibentuk, ada di sisi panjang dan ada di sisi lebar, di mana dua garis tersebut disilangkan dan bagian atas lebih pendek dibandingkan bawahnya, inilah yang wajib dihapus atau diubah bentuknya menjadi tidak seperti salib.

2- Model Kedua : Yang Boleh, Kalau bentuknya tidak nampak dan tidak dimaknai sebagai salib. Contohnya palang atap pada konstruksi bangunan, tanda plus dirumus matematika, untuk hal ini, tidak wajib untuk dihapus dan dari sisi ilmu ushul fiqh. hal ini tidak termasuk dalam larangan karena illah (sebab) larangan sudah tidak ada. Ini bukan mengagungkan simbol-simbol dan bentuk tasyabbuh kepada mereka. Intinya, tanda seperti itu tidak teranggap sebagai salib. (Keterangan dari Syaikh Muhammad Shalih Al Munajjid dalam Fatwa Al Islam Sual wal Jawab no. 121170)

Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin rahimahullah berkata,

أما ما ظهر منه أنه لا يراد به الصليب ، لا تعظيما ، ولا بكونه شعارا ، مثل بعض العلامات الحسابية ، أو بعض ما يظهر بالساعات الإلكترونية من علامة زائد ، فإن هذا لا بأس به ، ولا يعد من الصلبان بشيء

Adapun sesuatu yang nampak namun bukan dimaksudkan untuk salib, simbol tersebut tidak diagungkan, juga bukan sebagai syi’ar seperti tanda tambah (plus) dalam perhitungan matematika, begitu pula simbol pada jam elektonik, seperti itu tidaklah masalah dan tidak teranggap seperti salib (Majmu’ Fatawa wa Rasail Ibnu ‘Utsaimin, 18: 114-115, jawaban soal no. 74)

Dari penjelasan di atas nampak jelas bahwa tanda plus (+) bukanlah salib yang diperintahkan untuk dihapus, termasuk juga di sini adalah tanda + yang menjadi simbol palang merah. Wallahu a’lam bish showab

|Baca Juga : Selamat Natal Itu Bukan Sekedar Ucapan

The Habaib – Media Islam dan Kajian Online

Artikel atau Video dapat Follow | Like | Subscribe | Share
📷Instagram: @thehabaib
📲 Telegram : @thehabaib
📑 Facebook: thehabaib
▶️ Youtube: thehabaib

Leave a Reply

*