fbpx

Kedatangan Pasukan Gajah

Ketika Abrahah ash-Shabbah al-Habasyi, wakil umum an-Najasyi atas negeri Yaman melihat orang-orang Arab melakukan haji ke Ka’bah, dia membangun gereja yang amat megah di kota Shan’a dan menamakannya dengan Al-Qulais. Tujuannya, agar orang-orang Arab mengalihkan haji mereka ke sana.

|Baca juga : Penggalian Sumur Zamzam

Niat buruk ini didengar oleh seseorang dari Bani Kinanah. Dia secara diam-diam mengendap-endap pada malam hari dan menerobos masuk ke gereja tersebut, lalu melumuri kiblat mereka tersebut dengan kotoran. Tatkala mengetahui pelecehan ini, meledaklah amarah Abrahah & serta merta dia mengerahkan pasukan besar berkekuatan 60.000 personil menuju Ka’bah untuk meluluhlantahkannya.

Dia juga memilih gajah paling besar sebagai tunggangannya. Dalam pasukan tersebut terdapat terdapat 9 atau 13 ekor gajah yang lain. Dia meneruskan perjalanannya hingga sampai di suatu tempat bernama al-Mughammas (al-Maghmas), di tempat inilah dia memobilisasi pasukannya, menyiagakan gajahnya dan bersiap-siap untuk melakukan invasi ke kota Makkah.

Di tempat itulah, mereka menggiring harta milik orang-orang Quraisy yang di antaranya 200 ekor unta milik Abdul Muththalib. Hal tersebut menyebabkan Abdul Muththalib yang pada waktu itu menjadi tokoh masyarakat Quraisy datang menemui Abrahah. Begitu Abrahah melihat Abdul Muththalib, dia memberikan penghormatan dan memuliakannya. Tatkala Abrahah bertanya apa maksud kedatangannya, dia berkata, “Maksud kedatangan saya adalah berharap Raja mengembalikan unta-unta saya yang ditawan.”
Abrahah berkata, “Semula saya kagum kepadamu saat melihat kedatanganmu, kemudian saya tidak lagi menghargaimu setelah kamu berbicara kepadaku. Apakah kamu hanya memikirkan untamu dan sama sekali tidak membicarakan tentang Ka’bah yang merupakan agamamu dan agama leluhurmu, padahal kedatanganku kemari adalah untuk menghancurkannya?
Abdul Muththalib berkata, “Saya adalah pemilik unta-unta itu. Adapun Ka’bah, maka Pemiliknyalah yang akan menjaganya.”
Abrahah berkata, “Tidak akan ada yang mampu mencegah saya.”
Abdul Muththalib berkata, “Itu urusan kamu dan Pemiliknya” (maksud pemilih Ka’bah adalah Allah Ta’ala).

Orang-orang Quraisy keluar berlindung ke gunung dan menanti sambil melihat apa yang akan dilakukan oleh tentara Abrahah.

Saat Abrahah dan pasukannya baru saja sampai di Wadi Mahsir (Lembah Mahsir) yang terletak antara Muzdalifah & Mina, tiba-tiba gajahnya berhenti & duduk. Gajah ini tidak mau berdiri bila dikendalikan ke arah Ka’bah, akan tetapi bila mereka kendalikan ke arah selatan, utara, atau timur, ia maju & berlari kecil, sedangkan bila mereka alihkan kendalinya ke arah Ka’bah lagi, gajah tersebut duduk.

Manakala mereka mengalami kondisi semacam itu,
Allah mengirimkan ke atas mereka burung-burung yang berbondong-bondong sembari melempari mereka dengan batu yang terbuat dari tanah yang terbakar. Lalu Allah menjadikan mereka seperti daun-daun yang dimakan (ulat). Burung tersebut semisal khathathif (burung layang-layang) dan balasan (pohon murbey). Setiap burung melempar tiga buah batu; sebuah di paruhnya, dan dua buah lagi di kedua kakinya sebesar kerikil. Tidaklah lemparan batu tersebut mengenai seseorang melainkan akan menjadikan anggota-anggota badannya hancur berkeping-keping & binasa. Tidak semua dari mereka terkena lemparan tersebut; ada yang melarikan diri tapi mereka saling berdesakan satu sama lain sehingga banyak yang jatuh di jalan-jalan lantas mereka binasa terkapar di setiap tempat. Sedangkan Abrahah sendiri, Allah kirimkan kepadanya satu penyakit yang membuat sendi jari-jemari tangannya tanggal & berjatuhan satu persatu. Sebelum mencapai Shan’a, dia tak ubahnya seperti seekor anak burung yang dadanya terbelah hingga jantungnya terlihat, untuk kemudian dia roboh tak bernyawa.

Adapun kondisi orang-orang Quraisy,
mereka berpencar-pencar ke celah-celah bukit & bertahan di puncak-puncaknya karena merasa takut atas keselamatan mereka dan dipermalukan oleh tentara bergajah tersebut. Manakala pasukan tersebut telah mengalami kejadian tragis & mematikan tersebut, mereka turun gunung & kembali ke rumah masing-masing dengan rasa penuh aman.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,


أَلَمْ تَرَ كَيْفَ فَعَلَ رَبُّكَ بِأَصْحَابِ الْفِيلِ (1) أَلَمْ يَجْعَلْ كَيْدَهُمْ فِي تَضْلِيلٍ (2) وَأَرْسَلَ عَلَيْهِمْ طَيْرًا أَبَابِيلَ (3) تَرْمِيهِمْ بِحِجَارَةٍ مِنْ سِجِّيلٍ (4) فَجَعَلَهُمْ كَعَصْفٍ مَأْكُولٍ (5)

Apakah kamu tidak memperhatikan bagaimana Tuhanmu telah bertindak terhadap tentara bergajah? Bukankah Dia telah menjadikan tipu daya mereka (untuk menghancurkan Ka’bah) itu sia-sia? Dan Dia mengirimkan kapada mereka burung yang berbondong-bondong, yang melempari mereka dengan batu (berasal) dari tanah yang terbakar, lalu Dia menjadikan mereka seperti daun-daun yang dimakan (ulat).”
(Qur’an surat Al-Fiil ayat 1-5)

Abdul Muththalib mempunyai 10 orang putra, yaitu:
1. Al-Harits
2. Az-Zubair
3. Abu Thalib
4. Abdullah
5. Hamzah
6. Abu Lahab
7. Al-Ghaidaq
8. Al-Muqawwam
9. Shaffar
10. Al-Abbas.
Adapun putri-putrinya berjumlah 6 orang, yaitu:
1. Ummul Hakim (al-Baidha’ / si putih)
2. Barrah
3. Atikah
4. Shaffiyah
5. Arwa
6. Umaimah

FOOT NOTES:

“Penyerangan Ka’bah”

Peristiwa tragis tersebut terjadi pada bulan Muharram, 50 hari atau 55 hari (menurut pendapat mayoritas) sebelum kelahiran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dalam kalender masehinya bertepatan dengan penghujung bulan Februari atau permulaan bulan Maret tahun 571 M. Peristiwa tragis tersebut juga terjadi dalam kondisi di mana beritanya dapat sampai ke seluruh penjuru dunia yang ketika itu sudah maju. Di antaranya, sampai ke negeri Habasyah yang ketika itu memiliki hubungan yang erat dengan orang-orang Romawi. Di sisi yang lain, orang-orang Persia masih terus memantau perkembangan mereka dan menunggu apa yang akan terjadi terhadap orang-orang Romawi & sekutu-sekutunya. Maka, ketika mendengar peristiwa tragis tersebut, orang-orang Persia ini segera berangkat menuju Yaman. Persia & Romawi saat itu merupakan negara maju dan berperadaban (super power). Peristiwa tersebut juga mengundang perhatian dunia & memberikan isyarat kepada mereka akan kemuliaan Baitullah. Baitullah inilah yang dipilih-Nya untuk dijadikan sebagai tempat suci. Jadi, bila ada seseorang yang berasal dari tempat ini mengaku sebagai pengemban risalah kenabian, maka hal inilah tujuan utama dari terjadinya peristiwa tersebut dan penjelasan terhadap hikmah terselubung di balik pertolongan Allah terhadap kaum musyirikin melawan kaum Mukminin dengan cara yang melampaui ukuran yang ada pada dunia yang bernuansa kausalitas ini.

“Al-Mughammas (Al-Maghmas)”

Tempat tersebut hingga sekarang masih dikenal, terletak di sebelah timur Haram Makkah, yang dikelilingi dari arah timur oleh gunung yang bernama Kabkab, dan ujung Al-Maghmas dari selatan berbatasan dengan akhir Arafah, berjarak sekitar 20 km dari kota Makkah. Muhammad Hasan Syarab, Al-Ma’alim Al-Atsirah fi As-Sunnah wa As-Sirah, hal. 277.

“Hikmah dan Pelajaran”

  1. Peristiwa tentara bergajah terjadi dengan hikmah untuk mengangkat kedudukan orang-orang Quraisy di tengah-tengah kabilah Arab. Mereka adalah kabilah yang terlindungi, walaupun secara tidak langsung karena perlindungan itu datang sebagai konsekuensi dari perlindungan Allah terhadap Ka’bah dan bumi tempat mereka berada adalah bumi yang terjaga, sementara kabilah-kabilah lain yang dilalui oleh Abrahah menuju Makkah sempat dikuasai oleh Abrahah dan bumi mereka menjadi tawanan. Berdasarkan keterangan di atas, kedudukan Quraisy terlihat dan berbeda dengan kabilah-kabilah lainnya. Kemudian Nabi yang diutus adalah dari Quraisy dan dia hidup di tengah-tengah mereka, kemudian kabilah Quraisy menjadi pengikutnya dan diikuti oleh kabilah-kabilah Arab lainnya. Dengan demikian, kabilah Quraisy adalah ibarat kepala yang dibentuk, kemudian kepala tersebut diikuti oleh seluruh anggota tubuh. Apalah artinya sebuah anggota badan kalau kepalanya tidak ada?
  2. Perhatikanlah seorang Arab dari kabilah Kinan yang meninggalkan negerinya menuju Yaman, apa yang menyebabkan mereka meninggalkan negerinya dan melintasi perjalanan yang jauh? Laki-laki tersebut menempuh perjalanan jauh itu untuk menolong akidahnya, untuk menjaga kehormatan Ka’bah. Dia mengorbankan segalanya demi ideologinya, sebuah fenomena yang semestinya mengingatkan kita tentang hak agama kita ini atas kita, bahwa kita mesti berjalan, berjuang, dan berkorban demi dakwah kepada Allah Ta’ala. Banyak di antara kita yang merasa malas untuk melakukan pengorbanan demi agama yang mulia ini, sementara laki-laki itu berbuat dengan penuh rintangan dalam perjalanannya semata-mata hanya karena sebuah ungkapan yang dia dengar dan dia ingin melakukan pembelaan terhadap Baitullah (Ka’bah). Keberanian dan pengorbanan seperti itu akan terpatri pada diri seorang muslim yang memiliki kepedulian untuk menolong agama Allah dan berupaya untuk meninggikanya.
  3. Kondisi Arab pada kejadian pasukan bergajah menunjukkan bahwa mereka terkelompok dan terbagi-bagi, di antara mereka ada yang tunduk kepada kaisar di Irak. Di antara mereka, ada yang tunduk kepada kerajaan Romawi di Syam dan di antara mereka ada yang tunduk kepada kekuatan imperium Yaman, dan di antara mereka ada kabilah-kabilah yang selalu melakukan perang saudara, mereka tinggal di tengah-tengah jazirah Arabia. Inilah sesungguhnya kenyataan dari fanatisme kesukuan arab, kabilah-kabilah yang saling bertarung di antara mereka, ada yang tunduk menghamba kepada kekuatan lainnya, ada yang selalu berperang dengan tetangganya, tidak ada nilai dan harga mereka, kecuali setelah bergabung di bawah bendera Islam. Lembaran baru dalam sejarah Arab dimulai setelah mereka memeluk Islam. Mereka memegang peranan internasional, mereka memiliki kekuatan yang sangat diperhitungkan. Ini semua mereka peroleh karena keimanan mereka kepada Allah (dan membela Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam).
    Siapa saja yang memiliki pengetahuan tentang Arab sebelum datangnya cahaya Islam. dan setelah mereka mendapatkan cahaya tersebut, mereka pasti mengetahui bahwa mereka tidak memiliki nilai yang dikenang dan belum pernah mengibarkan bendera kebanggaan yang ditakuti oleh lawan, kecuali setelah bersama Islam. Bersama Islam, mereka menaklukkan negara-negara lain dan menjadi penguasa atas negeri-negeri mereka.
  4. Sikap Abdul Muththalib padahal dia adalah seorang musyrik, memberikan pelajaran bagi seorang Muslim tentang pentingnya bergantung kepada Allah Ta’ala, bertawakkal kepada-Nya, dan yakin akan datangnya pertolongan dari Allah. Jika abdul Muththalib saja bisa berkata, “Ka’bah memiliki pelindung yang akan menjaganya“, dia katakan itu dengan penuh keyakinan bahwa Ka’bah akan dilindungi oleh Pemiliknya, lalu apa yang pantas dikatakan kepada seorang muslim yang lalai dari memahami makna seperti itu bahwa Allah Ta’ala akan menolong agama-Nya, Nabi-Nya, dan hamba-Nya yang shalih?
    Alangkah perlunya umat Islam dewasa ini kepada ketegaran seperti itu, dalam kondisi mereka selalu bergantung pada sebab. Banyak di antara mereka larut dalam mencari sebab-sebab kemenangan. Padahal, seharusnya mereka menanamkan keyakinan yang kuat kepada Allah akan datangnya pertolongan. Padahal Allah Ta’ala berfirman, “Hai orang-orang mukmin, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.” (Qur’an surat Muhammad ayat 7)
  5. Abdul Muththalib tatkala melontarkan perkataannya yang terkenal itu, “Dan Ka’bah memiliki Pelindung yang akan menjaganya“, bukanlah semata-mata karena ingin berlepas tangan dari tanggung jawab sebagai seorang pemimpin, karena mereka adalah orang-orang Arab yang dikenal dengan jati dirinya dan keberaniannya. Dia mengatakannya dengan maksud memberikan peringatan kepada Abrahah. Sikap seperti itu seharusnya selalu dimiliki oleh muslim yang yakin bahwa pertolongan Allah pasti datang. Kata-kata tersebut adalah genderang perang yang belum dikenal manusia sebelumnya dan siapakah yang mampu melakukan perang melawan Allah?
  6. Peristiwa Tentara Bergajah adalah pelajaran bagi setiap yang tergoda jiwanya untuk melakukan perlawanan terhadap Haramillah (Tanah yang disucikan Allah). Allah sendiri yang akan menjaga Rumah-Nya walaupun waktu itu masih dikelilingi oleh orang musyrikin dan kesyirikannya. Kemudian bagaimana lagi dengan sekarang, saat Rumah Allah itu telah dikelilingi oleh orang-orang mukmin yang bertawaf, i’tikaf, ruku, dan bersujud?
  7. Pada peristiwa Pasukan Bergajah dapat memberikan kemantapan iman bagi setiap mukmin yang berjuang untuk melawan makar musuh Allah, karena kalau Allah menjaga dan menyelamatkan Rumah-Nya, maka pastilah Dia akan menjaga dan menyelamatkan orang yang berjuang untuk agama-Nya, membela Rasul-Nya, dan hamba-hamba-Nya yang beriman, karena martabat seorang mukmin lebih besar dari martabat Ka’bah.
    Diriwayatkan dari Ibnu Umar bahwa suatu saat dia memandang Ka’bah sambil berkata, “Alangkah agungnya kehormatanmu dan alangkah agungnya keharamanmu (kesucianmu), tetapi kehormatan dan harga diri seorang muslim lebih besar di sisi Allah daripada kamu.” (Sunan At-Tirmidzi, 2/200 nomor 1755. al-Bani berkata, “Hasan Shahih”). Kalau saja kehormatan seorang mukmin lebih mulia, maka tidak diragukan lagi bahwa Allah akan lebih menjaga dan membelanya, karena Dialah yang berfirman dalam Al-Qur’an: “Bukankah Dia telah menjadikan tipu daya mereka (untuk menghancurkan Ka’bah) itu sia-sia?” (Qur’an surat Al-Fiil ayat 2).
  8. Penjagaan Allah terhadap Ka’bah menunjukkan posisi dan keistimewaan khusus, dan menambah keyakinan bagi yang selama ini memendam kecintaan dan penghormatan terhadap Ka’bah. Oleh karena itu, bukanlah merupakan hal yang aneh jika muncul dari tempat yang mulia ini orang berseru kepada Allah, karena dia adalah bumi yang dijaga oleh Allah. Terutama kejadian tentara bergajah itu bertepatan dengan tahun kelahiran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
  9. Bahwa kabilah yang telah diberikan pertolongan oleh Allah pada kejadian tentara bergajah, hal yang menjadi pembeda dengan kabilah-kabilah lainnya karena telah mendapatkan penjagaan dari Allah, kemudian setelah itu, diutus Nabi pilihan dari kabilah yang sama, maka saatnya kita berhenti sejenak untuk merenungkan dengan untaian kata, ‘apa yang menjadi rahasia semua itu? Kenapa harus dari kabilah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, bukankah banyak kabilah Arab lainnya?’
    Mengedepannya sebuah kabilah kemudian dilanjutkan dengan terpilihnya seorang Rasul dari Kabilah yang sama memberikan hikmah dan pelajaran bahwa dalam berdakwah, mesti memberikan prioritas kepada tokoh dan orang-orang penting. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam diutus untuk pertama kalinya kepada tuannya kabilah Arab dan itu adalah tugas beliau yang pertama, dan begitulah semestinya sang da’i memulai dakwahnya. Jika di rumah, maka sang da’i memulai dari bapaknya dan kalau di sekolah, dimulai dari pimpinannya, serta kalau di kampung, maka dimulai dari kepala sukunya, dan begitulah seterusnya. Tokoh dan yang memiliki jabatan penting, mestinya diberikan haknya dan di antara haknya adalah memulai dari mereka karena mereka memiliki peranan besar dalam mempengaruhi yang lain.
  10. Syaikh Utsaimin rahimahullah berkata, “Allah ‘Azza wa Jalla melindungi Ka’bah dari gajah itu -walaupun nantinya pada akhir zaman (sebelum kiamat) akan ada orang dari Habasyah yang akan menghancurkan Ka’bah dengan membongkar batu-batanya satu per satu hingga rata dengan tanah [Al-Bukhari, Kitab Al-Haj, Bab Hadmu Al-Ka’bah, 1595-1596]- karena kisah itu menjadi pengantar lahirnya seorang Nabi bernama Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang dengan sendirinya memberikan penghormatan kepada Ka’bah yang terletak di lingkungan tempat Nabi itu akan diutus.
    Adapun pada akhir zaman, maka tatkala pemilik Ka’bah dan yang tinggal di sekitarnya mulai menghinakan dan menyepelekan kehormatan Ka’bah dengan melakukan kemaksiatan secara zhalim, maka pada saat itulah, Allah akan memunculkan orang yang menguasai mereka hingga menghancurkan Ka’bah sampai rata dengan tanah. Oleh karena itu, wajib hukumnya bagi penduduk Makkah pada khususnya untuk menghindari dosa, maksiat dan kemusyrikan agar kehormatan Ka’bah tidak terinjak-injak yang menyebabkan mereka terhinakan.

Diringkas dari Sumber Buku:
– Ar-Rahiq al-Makhtum (Sirah Nabawiyah Perjalanan Hidup Rasul yang Agung Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, edisi revisi); Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri (Penerbit Darul Haq, Jakarta).
– Fikih Sirah Nabawiyah; Prof. Dr. Zaid bin Abdul Karim Az-Zaid (Penerbit Darus Sunnah, Jakarta)

Nantikan Episode selanjutnya ya. in syaa Allah kita semua diberi rizki umur dalam keberkahan. Aamiin.
Mari bersholawat atas Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Mari mempelajari perjalanan hidup suri teladan kita Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

The Habaib – Media Islam dan Kajian Online

Leave a Reply

*