Warning: The magic method OCDI\OneClickDemoImport::__wakeup() must have public visibility in /home/thehabai/public_html/wp-content/themes/deodar/core/import/inc/OneClickDemoImport.php on line 128
Hidayah Lebih Penting Daripada Makan & Minum - thehabaib - Media Islam dan Kajian Online

Hidayah Lebih Penting Daripada Makan & Minum

Sesungguhnya hidayah adalah anugerah dan nikmat terbesar yang Allah berikan kepada hamba-Nya. Dengan hidayah seorang hamba dapat mengetahui jalan lurus menuju keselamatan dunia dan akhirat. Manusia membutuhkan hidayah lebih dari kebutuhan mereka terhadap makan dan minum. Tanpa hidayah manusia berada dalam kesesatan dan merugi di akhirat nanti.

Dalam sebuah hadis Qudsi Allah Ta’ala berfirman,

يَا عِبَادِى كُلُّكُمْ ضَالٌّ إِلاَّ مَنْ هَدَيْتُهُ فَاسْتَهْدُونِى أَهْدِكُمْ

Wahai sekalian hamba-Ku, kalian semua berada dalam kesesatan kecuali yang Kuberi petunjuk, maka mintalah petunjuk kepada-Ku, niscaya akan Kuberi petunjuk.” (HR. Muslim no. 6737)

Begitu pentingnya hidayah hingga kita diwajibkan berdoa meminta hidayah pada Allah minimal sebanyak 17 kali dalam sehari. Yaitu dengan membaca Firman Allah Ta’ala :

اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ

Tunjukilah kami jalan yang lurus (QS. Al Fatihah ayat 6)

Akan tetapi hidayah amatlah mahal, hidayah hanya milik allah dan diberikan hanya kepada yang Ia kehendaki.

وَكَذَٰلِكَ أَنزَلْنَٰهُ ءَايَٰتٍۭ بَيِّنَٰتٍ وَأَنَّ ٱللَّهَ يَهْدِى مَن يُرِيدُ

Dan demikianlah Kami telah menurunkan Al Quran yang merupakan ayat-ayat yang nyata, dan bahwasanya Allah memberikan petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki. ( al hajj :16)

Rasul Pun Tidak Dapat Memberikan Hidayah

Dari Hadits Riwayat Bukhari, no. 3884, Dari Ibnul Musayyib, dari ayahnya, ia berkata, “Ketika menjelang Abu Thalib (paman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam) meninggal dunia, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menemuinya. Ketika itu di sisi Abu Thalib terdapat ‘Abdullah bin Abu Umayyah dan Abu Jahl. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan pada pamannya ketika itu,

أَىْ عَمِّ ، قُلْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ . كَلِمَةً أُحَاجُّ لَكَ بِهَا عِنْدَ اللَّهِ

Wahai pamanku, katakanlah ‘laa ilaha illalah’ yaitu kalimat yang aku nanti bisa beralasan di hadapan Allah (kelak).

Abu Jahl dan ‘Abdullah bin Abu Umayyah berkata,

يَا أَبَا طَالِبٍ ، تَرْغَبُ عَنْ مِلَّةِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ

Wahai Abu Thalib, apakah engkau tidak suka pada agamanya Abdul Muthallib?

Mereka berdua terus mengucapkan seperti itu, namun kalimat terakhir yang diucapkan Abu Thalib adalah ia berada di atas ajaran Abdul Mutthalib.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian mengatakan,

لأَسْتَغْفِرَنَّ لَكَ مَا لَمْ أُنْهَ عَنْهُ

Sungguh aku akan memohonkan ampun bagimu wahai pamanku, selama aku tidak dilarang oleh Allah.

Kemudian turunlah ayat,

مَا كَانَ لِلنَّبِيِّ وَالَّذِينَ آَمَنُوا أَنْ يَسْتَغْفِرُوا لِلْمُشْرِكِينَ وَلَوْ كَانُوا أُولِي قُرْبَى مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُمْ أَصْحَابُ الْجَحِيمِ

Tidak pantas bagi seorang Nabi dan bagi orang-orang yang beriman, mereka memintakan ampun bagi orang-orang yang musyrik, meskipun mereka memiliki hubungan kekerabatan, setelah jelas bagi mereka, bahwa orang-orang musyrik itu adalah penghuni neraka Jahanam.” (QS. At-Taubah: 113)

Allah Ta’ala pun menurunkan ayat,

إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ

Sesungguhnya engkau (Muhammad) tidak bisa memberikan hidayah (ilham dan taufik) kepada orang-orang yang engkau cintai. (QS. Al-Qasshash: 56)

Dari pembahasan hadits di atas dapat diketahui bahkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak dapat memberikan hidayah kepada keluarga yang Beliau cintai tanpa ijin dari Allah Ta’ala.

Oleh karena itu itu bila kita telah diberi hidayah untuk belajar tentang Agama kita, hidayah untuk menjalankan ibadah sesuai tuntunan Rasulullah, bersyukurlah, istiqomah dalam ketaatan dan selalu berdoa agar kita tetap diberi hidayah. Karena bisa saja Allah mencabutnya sewaktu-waktu dari diri kita.

|Baca juga : Doa Meminta Selalu Dalam Ketaatan

The Habaib – Media Islam dan Kajian Online

Leave a Reply

*