fbpx

Hamba Ramadan

Hari itu itu pun datang, hari yang disunnahkan untuk di rayakan. Hari dimana tiap muslim bergembira. Namun bergembira bagimana yang dimaksud di sini? Bergembira bahwa bulan Ramadan telah lewat, bahwa kewajiban puasa telah selesai dan ia kembali bebas untuk melakukan aktivitas seperti sedia kala? Ataukah ia bergembira karena kemenangan ada di depan mata. Dimana ia berhasil memperbaiki diri dan menikmati manisnya iman dan takwa?

|Baca juga: Tips Sukses di Bulan Ramadan

Sejatinya kemenangan di hari raya bukan milik orang yang mengenakan baju baru, tapi milik orang yang ketaatannya bertambah setelah Ramadan berlalu. Hari raya bukan milik mereka yang terlalaikan & sibuk mengutamakan penampilan di hari raya, namun milik mereka yang telah diampuni dosanya.

Apakah kita termasuk dalam kategori mereka yang memperloleh kemenangan? Berikut karakter muslim yang bertambah ketaatannya setelah Ramadan berlalu:

1. Khawatir Amalan Ramadannya diterima atau tidak.

Saat Ramadan, kita giat melaksanakan berbagi macam ibadah, yang belum tentu kita lakukan di bulan-bulan yang lain. Namun janganlah berpuas diri,karena belum tentu ibadah kita diterima oleh Allah Ta’ala. Setiap ibadah memilki syarat agar di terima Allah Ta’Ala yaitu ikhlas karena Allah dan mengikuti tuntunan Rasulullah ﷺ.

Ulama terdahulu begitu khawatir apakah amalannya diterima ataukah tidak. Karenanya usai Ramadan, mereka berdoa supaya amalan mereka diterima.

Allah Ta’ala berfirman,

وَالَّذِينَ يُؤْتُونَ مَا آَتَوْا وَقُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ أَنَّهُمْ إِلَى رَبِّهِمْ رَاجِعُونَ

Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut, (karena mereka tahu bahwa) sesungguhnya mereka akan kembali kepada Rabb mereka.” (QS. Al-Mu’minun: 60).

Aisyah radhiyallahu ‘anha pernah bertanya pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang orang-orang yang dimaksud dalam ayat di atas, apakah mereka itu melakukan zina, mencuri dan minum minuman keras. Rasulullah ﷺ bersabda,

Tidak wahai binti Ash-Shiddiq . Akan tetapi, mereka itu rajin puasa, shalat dan sedekah. Namun mereka khawatir amalan mereka tidak diterima. Mereka itu adalah orang-orang yang bersegera dan terdepan dalam kebaikan.” (HR. Tirmidzi, no. 3175; Ibnu Majah, no. 4198.)

Karena Allah Ta’ala menyatakan,

إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللَّهُ مِنَ الْمُتَّقِينَ

 “Sesungguhnya Allah hanya menerima amalan dari orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Maidah: 27)

2. Amalan diterima jika kebaikan diikuti dengan kebaikan dan sebaliknya.

Ulama klasik berkata,

“Di antara balasan kebaikan adalah kebaikan selanjutnya dan di antara balasan kejelekan adalah kejelekan selanjutnya.”

Dalil dari hal ini adalah ayat,

فَأَمَّا مَنْ أَعْطَى وَاتَّقَى (5) وَصَدَّقَ بِالْحُسْنَى (6) فَسَنُيَسِّرُهُ لِلْيُسْرَى (7) وَأَمَّا مَنْ بَخِلَ وَاسْتَغْنَى (8) وَكَذَّبَ بِالْحُسْنَى (9) فَسَنُيَسِّرُهُ لِلْعُسْرَى (10)

“Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa, dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (surga), maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah. Dan adapun orang-orang yang bakhil dan merasa dirinya cukup, serta mendustakan pahala terbaik, maka kelak Kami akan menyiapkan baginya (jalan) yang sukar.” (QS. Al-Lail: 5-10)

2 kemungkinan kondisi seseorang setelah Ramadan :

  1. Keadaannya lebih baik dari sebelum Ramadan. Jika ia hijrah menuju jalan Allah, sadar akan masa lalunya yang buruk, dan semangat mengejar kebaikan. Terus memperbaiki agamanya dan juga akhlaknya semakin baik, maka itu merupakan tanda amalannya diterima.
  2. Keadaannya lebih buruk (sama) dibandingkan dengan sebelum Ramadan. Jika ia sudah bertekad di hari-hari akhir Ramadan akan berbuat maksiat setelah Ramadan berlalu, seperti kembali makan riba, zina, meninggalkan salat. Dan ia menjadi orang yang semakin jauh dari Allah. Wal ‘iyadzu billah.

3. Bukan Hamba Ramadan

Allah jadikan Ramadan sebagai bulan latihan agar kita dapat meningkatkan kualitas dan kuantitas ibadah kita. Selama 30 hari kita berupaya semaksimal mungkin, lalu ketika Syawal ditinggalkan semua begitu saja ? alangkah ruginya. Ulama klasik bernama Bisyr pernah menyatakan,

“Sejelek-jelek kaum adalah yang mengenal Allah di bulan Ramadan saja. Ingat, orang yang shalih yang sejati adalah yang beribadah dengan sungguh-sungguh sepanjang tahun.” (Lathaif Al-Ma’arif, hlm. 390)

Kita harus sadar bahwa Allah Ta’ala adalah Rabb yang sama yang kita sembah di dalam dan di luar Ramadan. Jadi jangan beribadah hanya berbatas waktu, tapi beribadahlah hingga maut datang, firman Allah Ta’ala :

وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّى يَأْتِيَكَ الْيَقِينُ

Dan sembahlah Rabbmu sampai datang kepadamu kematian.” (QS. Al-Hijr: 99).

Al-Hasan Al-Bashri menyatakan bahwa Allah tidak menjadikan batasan waktu untuk beramal bagi seorang mukmin kecuali kematian. (Lathaif Al-Ma’arif, hlm. 392)

4. Introspeksi diri dan Banyak Berdoa.

Hanya amalan orang yang bertakwa yang diterima, oleh karena itu kita harus selalu introspeksi diri dan banyak berdoa, karena bisa jadi diri kita jauh dari label “takwa”. Sebagaimana perkataan Ibnu Rajab rahimahullah,

‎ “Dahulu mereka (sahabat dan ulama terdahulu) berdoa kepada Allah selama 6 bulan agar mereka bisa berjumpa lagi dengan bulan Ramadan. Kemudian mereka berdoa selama 6 bulan berikutnya agar Allah menerima amalan mereka.” (Lathaif Al-Ma’arif, hlm. 369)

5. Istiqomah beramal setelah Ramadan.

Istiqomah adalah terus komitmen pada kebenaran dan terus beribadah. Hal ini bukan perkara mudah, sampai-sampai ulama yang bernama Muhammad bin Al Munkadar berkata,

كابدت نفسي أربعين سنة حتى استقامت

“Aku telah menahan diriku selama 40 tahun hingga aku bisa istqomah.” (Hilyatul Auliya’, 3: 146).

6. Berkualitas ibadahnya.

‎ٱلَّذِى خَلَقَ ٱلْمَوْتَ وَٱلْحَيَوٰةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا ۚ وَهُوَ ٱلْعَزِيزُ ٱلْغَفُورُ

Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalannya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun,… (Q.S : Al Mulk:2)


Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan maksud ayat disini adalah amalan yang paling baik. Perhatikan bahwa Allah tidak mengatakan yang paling banyak amalnya.

Inilah pentingnya berilmu sebelum beramal. Allah ‘Azza wa Jalla mempertegas kepada kita dengan firman-Nya :

قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ

Katakanlah: “Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran. (QS:AZ-Zumar ayat 9)

|Baca juga: ILMU VS KEBODOHAN

@2 Syawal 1442 H

The Habaib – Media Islam dan Kajian Online

Artikel atau Video dapat Follow | Like | Subscribe | Share
📷Instagram: @thehabaib
📲 Telegram : @thehabaib
📑 Facebook: thehabaib
▶️ Youtube: thehabaib

Leave a Reply

*