fbpx

Hadits #1 : Sesungguhnya Amal Itu Tergantung Niatnya

سَمِعْتُ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَلَى الْمِنْبَرِ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى دُنْيَا يُصِيبُهَا أَوْ إِلَى امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ

Amirul Mukminin Abu Hafsh Umar bin al-Khaththab berkata, ”Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda, ‘Sesungguhnya amal itu hanyalah tergantung niatnya dan setiap orang hanya mendapatkan apa yang  diniatkannya.   Barangsiapa  (berniat) hijrah kepada Allah dan rasulNya maka hijrahnya adalah kepada Allah dan rasulNya.  Barangsiapa yang (berniat) hijrah karena dunia yang bakal diraihnya atau wanita yang akan dinikahinya, maka hijrahnya kepada apa yang diniatkannya itu.’” (Sebagaimana diriwayatkan oleh 2 imam ahli hadits Abu Abdillah Muhammad bin Ismail bin Ibrahim bin al-Mughirah bin Bardizbah al-Bukhari dan Abu al-Husain Muslim bin Al-Hajjaj bin Muslim al-Qusyairi an-Naisaburi dalam Shahih keduanya yang merupakan kitab yang paling shahih).

Hadits tentang niat ini banyak menjadi pembuka kitab ulama seperti Imam An-Nawawi,  Imam Bukhari lalu Abdul Ghani Al-Maqdisi dalam kitab Umdatul Ahkam,  juga ada Al Bagawi dalam Syarhus Sunnah.

|Baca Juga : Kitab Hadits Arba’in An-Nawawi

Hadits pertama ini  sesungguhnya merupakan salah satu kaidah iman, pondasi pertama, dan yang paling penting.  Imam Syafi’i rahimullah mengatakan : “hadits ini masuk pada 70 bab dari ilmu fiqih”. Lebih lanjut beliau bahkan mengatakan “hadits ini  merupakan sepertiga dari ilmu”.

Para ulama terdahulu menyukai membuka kitab hadits yang ditulisnya dengan hadits ini karena sebagai pengingat kepada para penuntut ilmu untuk memperbaiki niat dan keinginan.  Keinginan harus dijaga hanya untuk mengharapkan wajah Allah dalam setiap amal-amal, yang tampak maupun tersembunyi.  Ini pointnya.  Luruskan niat untuk mengharapkan wajah Allah. Dalil dari Al Qur’an tentang niat terdapat dalam firman Allah Ta’ala :

۞ وَمَا تُنفِقُونَ إِلَّا ٱبۡتِغَآءَ وَجۡهِ ٱللَّهِۚ

Dan janganlah kamu menginfakkan sesuatu melainkan karena mencari keridhaan Allah. (Al Baqarah ayat 272 )

Penjelasan Hadits:

1. Merupakan salah satu hadits poros Islam.

Sehingga para ulama berkata, “ Poros Islam terletak pada dua hadits yaitu hadits ini & hadits Aisyah radhiyallahu anha :

مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ فِيهِ فَهُوَ رَدٌّ

Siapa yang membuat perkara baru dalam urusan kami ini yang tidak ada perintahnya maka perkara itu tertolak. (Shahih Bukhari HR.  no. 2499 )

Maka hadits ini ( إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ )adalah dasar pijakan amal-amal hati dan timbangan amal-amal batin, sedangkan hadits Aisyah adalah dasar pijakan amal-amal anggota badan.

2. Niat secara bahasa artinya maksud. 

Jadi maksud itu lah yang membedakan  ibadah  yang satu dengan ibadah yang lainnya, yang membedakan antara ibadah dan kebiasaan. Jadi jika sesuatu amalan kita niatkan ibadah maka dia akan menjadi pahala.  Adapun sesuatu perbuatan yang sebenarnya hanya merupakan kebiasaan tapi jika diniatkan untuk ibadah maka dapat berbuahkan pahala.  Misalnya, niat makan, minum, mandi itu kan suatu kebiasaan yang sifatnya mubah atau boleh tetapi ketika kita makan kita niatkan insyaaAllah ini akan menguatkan kaki untuk pergi ke masjid atau kita minum teh dulu agar nanti saat ikut pengajian bisa lebih kuat.  Nah niat makan dan minum yang ditujukan untuk ibadah  itu  mendapatkan pahala.  Berbeda dengan jika kita makan karena nafsu saja, atau syahwat semata.

Misalnya, membeli cappucino yang sedang ‘happening’ sekedar karena suka, atau sekedar ikut trend, tentu berbeda dengan jika membeli kopi itu diniatkan agar nanti tidak mengantuk ketika shalat malamnya.   Contoh lainnya mandi, jika diniatkan mandi agar segar supaya baca Al Qur’annya tidak mengantuk, berbeda dibandingkan dengan mandi karena kebiasaan saja, atau agar menghilangkan aroma tidak sedap.  Itu yang membedakan antara ibadah dan kebiasaan. Jadi ketika suatu amalan kita niatkan untuk kebaikan maka kita akan mendapatkan kebaikan. Pahala seseorang tergantung niat tersebut.   Melakukan sesuatu karena kebiasaan tertentu tidak mendapatkan pahala akan tetapi ketika kita niatkan sesuatu itu untuk menguatkan ibadah maka ini akan membedakan antara ibadah dengan kebiasaan. Tentu kita mendapatkan pahala karena niat yang dilakukan secara sadar dalam hati. Tentu saja, niat yang kita bahas ini adalah dalam perkara ketaatan.

Bayangkan  jika dalam sehari kita makan 3 kali dan kita niatkan untuk mendapatkan pahala.  Lalu ada mandi, dan perkara mubah lainnya. Tentu banyak pahala kita dapatkan dalam setahun bukan?  Dan rugi sekali jika kita lakukan dengan begitu saja, berlalu begitu saja.  Oleh karenanya, setelah mempelajari hadits pertama ini, mari kita rubah pola lama dengan yang baru, makan, minum, mandi  dengan niat untuk meraih pahala.  Niatkan tidur agar segar ketika bangun untuk shalat tahajud, dll.

Semoga Allah jadikan kita orang-orang yang selalu berniat ibadah setiap melakukan amalan mubah.

3. Wajib membedakan antara suatu ibadah dengan ibadah yang lainnya dan antara ibadah dan muamalah.

Berdasarkan sabda Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam

إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّات

Sesungguhnya amal itu hanyalah tergantung niatnya.

Misalnya, saat shalat sunnah qobliyah subuh dan shalat subuh dimana jumlah rakaatnya sama yaitu 2  rakaat, yang membedakan keduanya adalah niat kita di awal.   Sedangkan  yang membedakan ibadah dengan kebiasaan contohnya adalah mandi. Niat lah yang membedakan antara mandi junub untuk bersuci dari hadas besar dengan mandi biasa. Mandi biasa cuma menghilangkan keringat dan kotoran, untuk mengembalikan kesegaran dan mendapatkan aroma yang menyenangkan, sedangkan mandi junub adalah ibadah mensucikan diri dari hadats besar.

4. Diriwayatkan oleh 2 imam ahli hadits

Yaitu Imam Abu Abdillah Muhammad bin Ismail bin Ibrahim bin al-Mughirah bin Bardizbah Al Bukhari yang biasa kita kenal Imam Bukhari dan Abu Al Husain muslim bin al-Hajjaj bin Muslim yang biasa kita kenal Imam Muslim. Kitab Shohih Bukhari dan kitab Shohih Muslim merupakan kitab yang paling shahih dimuka bumi setelah Al Qur’an, dikarenakan kedua imam menggunakan metode takhrij yang sangat detil dan penuh kehati-hatian. Dan Jika suatu hadits terdapat didalam kedua kitab tersebut, maka dikatakan muttafaqun alaihi.  Tidak ada jalan lain yang shohih selain jalan ini.  Jadi dari segi kekuatan hadits ini paling tinggi derajatnya.  Kalau kita lihat dari matan hadits إِنَّمَا adalah kata yang digunakan sebagai kata pembatas dari segi bahasa Arab.  Jadi kata tersebut membatasi.  Apa yang dibatasi? Amalan-amalan yang dibatasi itu adalah amalan-amalan khusus yang bersifat ibadah.

5. Amalan yang merupakan bagian dari iman dalam Islam

Amalan dalam Islam terbagi menjadi tiga macam, yang pertama amalan hati – niat, cinta kepada Allah , tawakal kepada Allah, takut kepada Allah.   Lalu ada amalan lisan atau mulut – seperti berdzikir, membaca Quran, mengajak orang berbuat baik dan menjauhi kemungkaran.  Yang ketiga, amalan anggota badan –  shalat, puasa.

Faedah hadits:

1. Niat termasuk amalan hati.

Maksudnya adalah perbuatan yang dikerjakan di hati, karena dia amalan hati maka tidak berubah menjadi amalan lisan atau harus diungkapkan dengan mulut. Contoh sehari-hari adalah di saat membuka pintu rumah jika kita mau berangkat kerja, tentu kita tidak mengucapkan dengan lisan bahwa  “Saya ingin berangkat ke kantor jam 8 dan nanti ingin membuat laporan keuangan, lalu meeting dengan marketing tim selama 2 jam dll sampai jam 5 sore”.  Sesungguhnya ketika kita mau berangkat kerja, kita segera berangkat dan tidak menyebut-nyebut niat secara lisan di depan pintu.  Dan niat kita ingin berangkat kerja sudah terlihat ketika kita memilih baju kerja di lemari pakaian.

2. Niat tidak menghalalkan cara, dan baiknya suatu tujuan tidak otomatis menghalalkan cara. 

Jadi walaupun niat kita baik tapi kalau caranya bertentangan dengan syariat, dapat dikatakan tidak akan mendapatkan pahala bahkan bisa mendapatkan dosa. Contoh:

alhamdulillah di saat pandemi seperti ini banyak pihak  yang memberikan bantuan – ada bantuan sosial dari pemerintah pusat, ada bantuan dari pemerintah daerah, ada paket dari institusi tertentu.  Bagi orang-orang yang punya jabatan ada ujian disini.  Apakah mereka bisa amanah ?  Misalnya, seorang ketua RT sedang menyambut kedatangan truk berisi paket bantuan.  Sambil mengawasi orang menurunkan 100 paket, timbul pikirannya, “Ah saya niat ngasih makan istri dan anak-anak nih, juga bapak dan ibu kandungnya.  sebaiknya ini saya amankan dulu untuk mereka.” Dia pun menjenguk ke dalam paket.  Mulai lah menyisihkan mie instant 2 bungkus, gula pasir 1 kg dan ikan sarden 1 kaleng.  Bayangkan, jika ada 100 paket, berapa banyak yang di-’aman’kannya?  Nah, ini niatnya baik tetapi pelaksanaannya salah dan ia pun berdosa karena melanggar amanah.

Begitu juga seorang koruptor yang royal mengajak keluarga besarnya haji Furoda bersama. Niatnya baik tetapi niat tidak menghalalkan cara, maka alih-alih meraih pahala dia berbuat berdosa karena caranya yang salah. Jadi sangatlah penting kita dari awal kita berniat ibadah yang baik dan caranya juga yang benar sesuai tuntunan syariat. 

3. Setiap orang akan mendapat pahala dan dosa, atau terhalang dari kebaikan tergantung dari niatnya.

Jadi niat sangatlah penting. Sebagai contoh, niatkan membahagiakan istri saat membelikannya nasi goreng atau sate padang.  Niatkan sayang kepada anak yatim ketika mengundang mereka makan, bukan karena ingin dipuji di media sosial. Luruskan niat, bukan untuk membangga-banggakan diri.   

Sekarang zaman dimana semua serba dikabarkan,contohnya status di whatsapp, di story Instagram atau  Facebook. Kita harus berhati-hati dalam mengupload status atau muatan berisikan amal ibadah yang kita lakukan. Jangan sampai kita menyimpang dari  mengharapkan wajah Allah menjadi mengharapkan pujian manusia secara tak sengaja ataupun tidak.   Mari kita niatkan belajar ilmu agama  karena belajar itu adalah wajib bagi setiap muslim. Hadits yang diriwayatkan dari Anas Bin Malik radhiyallohu ‘anhu, Nabi saw bersabda :

طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ

“Menuntut ilmu adalah kewajiban bagi setiap muslim” (HR. Sunan Ibnu Majah :220)

Niatkan belajar untuk  menghilangkan kebodohan dari diri kita sendiri dan diri orang-orang disekitar kita.  Tapi janganlah kita niatkan belajar untuk menjadi pintar dalam bantah-bantahan. karena berarti niat kita tidak lurus.  Ingat, syaiton akan selalu berusaha menghalangi kita dari kebaikan, dari jalan yang lurus. 

Godaan bermain di sosial media sangat besar.  Contoh ketika berhaji atau berumroh,niatkan karena Allah Ta’ala, bukan untuk pamer, bukan karena ikut-ikutan. Jangan setibanya disana sibuk berswa-foto untuk sosial media atau memasang status yang menunjukkan kita sedang berhaji atau berumroh,perihal ini amat disayangkan jika kita sudah capek-capek keluar uang dan tenaga, berpisah dari keluarga, lalu amal saleh kita rusak karena sebuah foto. Begitu juga ketika berolahraga sepeda, niatkan ingin badan yang bugar, ingin mendapatkan tubuh yang sehat sehingga kuat saat beribadah.

4. Anjuran ikhlas kepada Allah Ta’ala

karena Nabi Shallallahu ‘alaihi salam mengelompokkan manusia menjadi dua kelompok:

Pertama:  Yang menginginkan wajah Allah dan negeri akhirat dengan amalnya.

Kedua: Yang sebaliknya, dan kelompok inilah yang dianjurkan untuk ikhlas kepada Allah Ta’ala.

Ikhlas itu harus diperhatikan dan harus dianjurkan, karena ia adalah inti yang paling utama dan penting yang menjadi tujuan diciptakannya manusia.   Allah berfirman,

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.”  (Adz-Dzariyat ayat 56).

Bagaimana dengan kita, apakah kita selalu berada di kelompok yang pertama atau dari kelompok yang kedua?  Kalau kita di kelompok kedua, kita haru berubah mulai sekarang – kita harus mengikhlaskan setiap ibadah kita kepada Allah. Ikhlas ini utama, merupakan syarat pertama diterimanya amal.

Kita diperintahkan untuk wajib berhati-hati terhadap riya.  Riya itu artinya ingin dilihat oleh orang lain, sum’ah yaitu ingin orang lain mendengar kebaikan kita, berharap mendapat pujian manusia.  Ini adalah perkara yang dapat menghapus amal sholeh kita. 

5. Riya juga terjadi ketika meninggalkan suatu amalan. 

Fudhail bin Iyadh rahimahullah mengatakan,   ikhlas meninggalkan amalan karena manusia adalah riya sedangkan beramal karena manusia adalah syirik  Siapa yang bertekad kuat untuk suatu ibadah lalu meninggalkan ibadah tersebut lantaran kuatir dilihat oleh manusia maka ia telah berbuat riya.  

Contohnya, seseorang sudah biasa  sedekah diam-diam lalu disuatu hari di saat ia mau bersedekah di kotak amal masjid, lewatlah Pak RT,  orang tersebut lantas berpikir,  ‘Jangan deh, gak jadi bersedekah hari ini,  nanti dilihat Pak RT, bisa-bisa disangka pamer.’   Lalu ia meninggalkan kotak amal masjid tersebut. Hal ini juga merupakan bentuk riya dalam versi lain. Solusinya bagaimana ? tentu hendaknya ditunggu hingga Pak RT berlalu maka hal itu jauh lebih baik daripada ditinggalkan.  

Adapun sekiranya ia meninggalkan ibadah karena ia dapat mengerjakannya tersembunyi, misalnya  shalat sunnah sendirian,   maka perbuatan ini disukai.  Yang  dikecualikan jika ibadah tersebut sifatnya wajib atau zakat yang wajib atau seorang alim yang dijadikan panutan sedang beribadah maka menampakkan ibadah pada saat itu merupakan perkara yang paling utama, yang dibolehkan. Contoh Sholat berjamaah 5 waktu di masjid adalah perkara yang tidak dapat dilakukan secara sembunyi-sembunyi, maka hendaknya kita selalu meluruskan niat ikhlas karena Allah Ta’ala.

6. Hijrah termasuk amal sholeh

Jika diniatkan untuk Allah dan rasul-Nya, dan setiap perbuatan yang diniatkan untuk Allah dan rasul-Nya, maka perbuatan tersebut termasuk amal sholeh. Apa hijrah itu? dari segi bahasa hijrah itu meninggalkan jadi meninggalkan tempat yang tidak aman  ke tempat yang aman.

Di zaman rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam terjadi peristiwa hijrah para sahabat dari Mekah ke Habasyah  (Etiopia), juga ada peristiwa hijrah nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dari Mekah ke Madinah, namun hijrah dari Mekah ke Madinah ditutup ketika ada peristiwa Fathul Mekah.

Lalu apakah ada hijrah zaman now? Ada,  yaitu hijrah yang berlaku hingga sekarang hingga kiamat, Ialah hijrah dari negeri Syirik ke negeri Islam, hijrah dari kafir  ke negeri Islam karena cinta Allah dan rasul-Nya, alasanya karena ingin belajar agama islam lebih dalam, ingin menampakkan agamanya. Inilah arti hijrah sesungguhnya,  yaitu hijrah menuju Allah Ta’ala dan rasul-Nya secara hakiki. 

Jadi kalau misalnya ada yang tinggal disuatu negeri yang mana mayoritas penduduknya adalah  orang kafir, dimana-mana restoran menyajikan babi semua, alias sulit mendapatkan makanan halal, kemudian letak masjid 20 km dari kediaman, wanita menggunakan hijab ditarik-tarik ketika di subway.  Mereka yang bekerja di negeri barat sudah umum mengalami  kejadian seperti itu. Tidak bisa menampakkan agamanya, tidak bisa mempraktekkan agamanya, walaupun gaji kantornya ribuan dollar, namun baca Al Quran masih belum bisa, maka dihukumi wajib baginya untuk hijrah ke negara Islam jika kondisinya seperti kisah diatas. Lalu ada yang mengatakan, tapi kan gaji dan tunjangannya besar?  Nah, berarti dia hijrah kesana demi dunia. Sesungguhnya hijrah yang paling mulia di dunia adalah hijrah menuju Allah dan rasul-Nya. Nanti di akhirat  kita tidak ditanya  berapa gaji kita di dunia, Demi Allah tidak, tapi yang ditanya apakah siapa tuhanmu?  Siapa nabimu dan apa agamamu. Ketiga pertanyaan ini hanya mampu dijawab dengan kedekatan kita dengan Allah, Rasul-Nya dan agama-Nya, bukan dengan contekan selembar kertas dikain kafan kita atau hapalan kita menjelang kematian.. 

Lalu bagaimana dengan mereka yang ingin pergi ke Saudi Arabia untuk mendapatkan gaji besar atau berbisnis dengan imbalan besar dalam riyal ? lalu bagaimana pula dengan warga singapura yang ingin ke Indonesia dengan maksud ingin menikahi perempuan-perempuan Indonesia yang terkenal cantik-cantik dan pintar masak? Apakah kedua jenis orang  tersebut  apakah  disebut berhijrah?   Bukan! Karena mereka bukan hijrah untuk Allah dan rasul-Nya, walaupun berhijrah ke negara Islam lainnya.  Jenis yang pertama  adalah demi harta sedangkan orang yang kedua adalah ingin menikah.  Alangkah baiknya jika tujuan awal kedua jenis orang tersebut adalah mengharapkan wajah Allah, dan kelak suatu saat jika kemudian mereka mendapatkan gaji besar atau istri cantik dan pintar masak, itu adalah salah satu rezeki yang Allah berikan kepada orang yang hijrah karena Allah dan Rasul-nya, bukan sebaliknya.   

Referensi :

  • Syarh Arba’in an-Nawawi, al-Allamah Asy-Syaikh al-Utsaimin,
  • Fathul Qowiyil Matiyn fii Syarh alArbai’n wa tatimmatil khomsyina linnawawiyi wa ibni rojab rahimahulloh, Syaikh ‘Abdul Muhsin Bin Hamd al-‘Abbad alBadr
  • Hadits Arbain an-Nawawi, Darul Haq, 1441H
  • Intisari Arba’in An-Nawawi, Yazid bin Abdul Qadir Jawas, pustaka imam syafi’i,1436 H

The Habaib – Media Islam dan Kajian Online

Artikel atau Video dapat Follow | Like | Subscribe | Share
📷Instagram: @thehabaib
📲 Telegram : @thehabaib
📑 Facebook: thehabaib
▶️ Youtube: thehabaib

1 Comment

Leave a Reply

*