fbpx

Akhlak Lebih Utama Dari Ilmu?

Pentingnya menuntut ilmu sudah diketahui dan diyakini oleh semua orang. Ini menjadi salah satu alasan bahwa banyak orang tua yang rela banting tulang bekerja dari pagi hingga larut malam, bertujuan agar dapat memasukan anaknya ke sekolah terbaik. Ada juga yang gigih menghabiskan sebagian besar hidupnya di bangku pendidikan demi mengejar gelar sarjana S2 dan S3 dalam ilmu dunia. 

Sebagaimana kita ketahui bahwa agama Islam telah mewajibkan kaum muslim untuk menuntut ilmu. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ

Menuntut ilmu itu wajib atas setiap muslim”. (HR. Ibnu Majah. Dinilai shahih oleh Syaikh Albani dalam Shahih wa Dha’if Sunan Ibnu Majah no. 224). 

Akan tetapi, banyak orang tidak tahu ilmu yang dimaksud di sini adalah ilmu agama.

Perlu digaris bawahi bahwa ketika Allah Ta’ala atau Rasul-Nya Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan kata “ilmu” dalam Al-Quran atau hadist maka yang dimaksud adalah ilmu syar’i (ilmu agama). 

Ada sebagian orang yang tidak memahami hal ini. Sikapnya ketika diajak belajar tahsin, mengikuti kajian membahas tafsir Quran atau fiqih shalat, mereka enggan dan beralasan : “Maaf, ga ada waktu, ga liat nih aku sibuk banget”.

Atau bahkan ada yang ngeles dan memberikan pernyataan yang lebih absurd:

“Percuma berilmu kalau akhlaknya tidak baik”.

Pembahasan kita kali ini adalah cara menyikapi pernyataan seperti itu, Pernyataan yang kurang tepat, karena sesungguhnya akhlak yang baik adalah wujud dari ilmu yang diamalkan. 

amal yang dibangun di atas kejahilan (yaitu bagi yang tidak berilmu) justru akan menyesatkan dan menjadi penyesalan di hari kiamat nanti.

Definisi Ahli Ilmu

Manusia terbaik adalah yang memiliki rasa takut kepada Allah Ta’ala. Tidak ada yang lebih takut kepada-Nya kecuali ahli ilmu, atau biasa disebut dengan ulama. Allah Ta’ala berfirman

  إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ 

Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. (QS: al Fatir:28) 

Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Sesungguhnya yang paling takut pada Allah dengan takut yang sebenarnya adalah para ulama (orang yang berilmu). Karena semakin seseorang mengenal Allah Yang Maha Agung, Maha Mampu, Maha Mengetahui dan Dia disifati dengan sifat dan nama yang sempurna dan baik, lalu ia mengenal Allah lebih sempurna, maka ia akan lebih memiliki sifat takut dan akan terus bertambah sifat takutnya.” (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 6: 308).

Jangan lupa bahwa seseorang tidak disebut sebagai ahli ilmu kecuali apabila mengamalkan ilmunya. Dan seorang ahli ilmu tidak akan mengamalkan ilmu kecuali apabila di dalam dirinya tertanam rasa takut kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. 

Ahli ilmu memiliki kedudukan sangat mulia di sisi Allah Ta’ala, sebagaimana hadist berikut

عَنْ كَثِيرِ بْنِ قَيْسٍ قَالَ كُنْتُ جَالِسًا مَعَ أَبِى الدَّرْدَاءِ فِى مَسْجِدِ دِمَشْقَ فَجَاءَهُ رَجُلٌ فَقَالَ يَا أَبَا الدَّرْدَاءِ إِنِّى جِئْتُكَ مِنْ مَدِينَةِ الرَّسُولِ -صلى اللهعليه وسلم- لِحَدِيثٍ بَلَغَنِى أَنَّكَ تُحَدِّثُهُ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- مَا جِئْتُ لِحَاجَةٍ. قَالَ فَإِنِّى سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَقُولُ « مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَطْلُبُ فِيهِ عِلْمًا سَلَكَ اللَّهُ بِهِ طَرِيقًا مِنْ طُرُقِ الْجَنَّةِ وَإِنَّ الْمَلاَئِكَةَ لَتَضَعُ أَجْنِحَتَهَا رِضًا لِطَالِبِ الْعِلْمِ وَإِنَّ الْعَالِمَ لَيَسْتَغْفِرُلَهُ مَنْ فِى السَّمَوَاتِ وَمَنْ فِى الأَرْضِ وَالْحِيتَانُ فِى جَوْفِ الْمَاءِ وَإِنَّ فَضْلَ الْعَالِمِ عَلَى الْعَابِدِ كَفَضْلِ الْقَمَرِ لَيْلَةَ الْبَدْرِ عَلَى سَائِرِ الْكَوَاكِبِ وَإِنَّالْعُلَمَاءَ وَرَثَةُ الأَنْبِيَاءِ وَإِنَّ الأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوا دِينَارًا وَلاَ دِرْهَمًا وَرَّثُوا الْعِلْمَ فَمَنْ أَخَذَهُ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ »

Dari Katsir bin Qois, ia berkata, aku pernah duduk bersama Abu Darda’ di Masjid Damasqus, lalu datang seorang pria yang lantas berkata, “Wahai Abu Ad Darda’, aku sungguh mendatangi dari kota Rasul -shallallahu ‘alaihi wa sallam- (Madinah Nabawiyah) karena ada suatu hadits yang telah sampai padaku di mana engkau yang meriwayatkannya dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Aku datang untuk maksud mendapatkan hadits tersebut. Abu Darda’ lantas berkata, sesungguhnya aku pernah mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan mudahkan baginya di antara jalan menuju surga. Sesungguhnya malaikat meletakkan sayapnya sebagai tanda ridho pada penuntut ilmu. Sesungguhnya orang yang berilmu dimintai ampun oleh setiap penduduk langit dan bumi, sampai pun ikan yang berada dalam air. Sesungguhnya keutamaan orang yang berilmu dibanding ahli ibadah adalah seperti perbandingan bulan di malam badar dari bintang-bintang lainnya. Sesungguhnya ulama adalah pewaris para Nabi. Sesungguhnya Nabi tidaklah mewariskan dinar dan tidak pula dirham. Barangsiapa yang mewariskan ilmu, maka sungguh ia telah mendapatkan keberuntungan yang besar.” (HR. Abu Daud no. 3641.)

Ulama mengatakan buah dari ilmu adalah amal yang baik dalam kehidupan sehari-hari. Bagaimana kita bisa mengetahui bahwa ilmu agama yang kita miliki bermanfaat?

Tanda-tanda Ilmu Yang Bermanfaat:

  • Mengamalkannya 
  • Tidak senang dengan pujian, dan dibangga-banggakan di depan manusia lain. 
  • Makin tinggi rasa tawadhu setiap kali ilmunya bertambah. 
  • Tidak berambisi terhadap jabatan kepemimpinan, popularitas, dan dunia. 
  • Menghindar dianggap sebagai ulama atau ahli ilmu.
  • Berprasangka buruk kepada diri sendiri dalam berprasangka baik kepada orang lain, berhati-hati jangan sampaimmencela orang lain.

Ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang yang ditunaikan. Ilmu itu bertambah banyak bila diinfakkan dan berkurang bila disimpan saja.

Ahli Ilmu Juga Manusia

Bagaimana bila ada orang berilmu tetapi akhlaknya masih kurang baik? Ini pertanda bahwa ilmunya masih sekedar koleksi dan belum diamalkan. Namun juga perlu diingat bahwa semua manusia tidak terlepas dari dosa dan pasti pernah berbuat salah, begitu juga dengan seorang ahli ilmu, tidak akan luput dari kesalahan. Sesuai sabda Rasulullah shallallahu Alaihi Wasallam :

كُلُّ ابْنِ آدَمَ خَطَّاءٌ وَخَيْرُ الْخَطَّائِينَ التَّوَّابُونَ

Seluruh anak Adam berdosa, dan sebaik-baik orang yang berdosa adalah yang bertaubat (HR Ibnu Maajah no 4241, dihasankan oleh Syaikh Al-Albani)

Namun sebelum menghukumi seorang yang berilmu kurang akhlaknya, baiknya kita introspeksi diri. Apakah benar demikian, atau hati kita yang tidak bisa menerima kebenaran yang ia sampaikan?

Amar ma’ruf Nahi Mungkar Seorang Da’i

Dalam mengajarkan ilmu, amar ma’ruf nahi mungkar harus ditegakkan. Dakwah tidak boleh hanya menyampaikan yang ma’ruf, tapi meninggalkan nahi mungkar. Seperti hanya mengajarkan kebaikan hati, indahnya Islam, sunah-sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam namun tidak mengajarkan bahaya kesyirikan, larangan riba, atau perintah menutup aurat. 

Allah Ta’ala berfirman,

وَأْمُرْ بِالْمَعْرُوفِ وَانْهَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَاصْبِرْ عَلَى مَا أَصَابَكَ إِنَّ ذَلِكَ مِنْ عَزْمِ الْأُمُورِ

Dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah).” (QS. Luqman: 17)

Ibnu Katsir rahimahullah menafsirkan kalimat “bersabar atas apa yang menimpamu” pada ayat diatas bahwa dalam mengerjakan amar ma’ruf nahi munkar terhadap manusia, pasti akan menghadapi gangguan dan per­lakuan yang menyakitkan. Karena itulah harus bersabar terhadap gangguan yang akan terjadi.

Jangan Jadi Hakim Untuk Saudaramu

Disini penting bagi kita untuk muhasabah diri. Sebelum menilai seorang ahli ilmu kurang ahlak, ekstrim, atau keras mari kita pertimbangkan kembali, betulkah demikian atau hawa nafsu kita yang menolak dakwahnya? Jangan-jangan kitalah gangguan yang disebutkan pada tafsir Ibnu Katsir diatas.

Oleh karena itu penting bagi kita untuk terus belajar, agar dapat membedakan bila seseorang menyampaikan kebenaran atau kebathilan. Agar bisa mengetahui ajaran dan amalan mana yang sesuai dengan tuntunan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berdasarkan yang dalil shohih.

Mari kita terus berusaha untuk menuntut ilmu dan mengamalkannya. Semoga kita termasuk orang yang Allah Ta’ala inginkan kebaikan padanya. Sesuai hadist Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam

Dari Mu’awiyah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِى الدِّينِ

Barangsiapa yang Allah kehendaki mendapatkan seluruh kebaikan, maka Allah akan memahamkan dia tentang agama.” (HR. Bukhari no. 71 dan Muslim no. 1037).

|Baca Juga : Pentingnya Berilmu Sebelum Beramal

Referensi :

Hilyah Thalibil Ilmi, Syaikh Bakr bin Abdullah Zaid

The Habaib – Media Islam dan Kajian Online

Artikel atau Video dapat Follow | Like | Subscribe | Share
📷Instagram: @thehabaib
📲 Telegram : @thehabaib
📑 Facebook: thehabaib
▶️ Youtube: thehabaib

Leave a Reply

*