fbpx

5 Rupa Takdir

Percaya pada takdir Allah Ta’ala berupa takdir yang baik maupun takdir yang buruk adalah rukun iman yang terakhir. Oleh karenanya kita wajib beriman pada takdir. Apakah takdir itu?

Definisi takdir tidak terlepas dari arti qadha’ dan qadar. Syaikh Al-‘Utsaimin rahimahullah menjelaskan qadar secara bahasa sama artinya dengan takdir. Sedangkan qadha’ secara bahasa berarti hukum atau ketetapan. Qadha’ dan qadar masuk dalam istilah kata “jika disebut bersamaan, maka kedua kata tersebut saling menjelaskan namun jika disebut terpisah, maka kedua maknanya sama.”

Takdir (qadar) adalah segala sesuatu yang Allah tetapkan dahulu kala yang akan terjadi pada makhluk-Nya. Sedangkan qadha’ adalah apa yang telah Allah tetapkan pada hamba berupa ada, tidak ada, dan perubahan. Sehingga kalau dilihat dari penjelasan ini, qadar lebih ada dulu baru takdir.

Segala sesuatu yang telah ditakdirkan akan menimpa seseorang, tidak mungkin luput darinya. Segala sesuatu yang tidak ditakdirkan baginya, tidak mungkin akan menimpanya. Inilah yang dimaksudkan dalam sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

وَتَعْلَمَ أَنَّ مَا أَصَابَكَ لَمْ يَكُنْ لِيُخْطِئَكَ وَأَنَّ مَا أَخْطَأَكَ لَمْ يَكُنْ لِيُصِيبَكَ

Hendaklah engkau tahu bahwa sesuatu yang ditakdirkan akan menimpamu, tidak mungkin luput darimu. Dan segala sesuatu yang ditakdirkan luput darimu, pasti tidak akan menimpamu.” (HR. Ahmad 5/185. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini kuat).

5 macam takdir

Pertama: Takdir umum mencakup segala yang ada. Takdir ini dicatat di Lauhul Mahfuzh. Dan Allah telah mencatat takdir segala sesuatu hingga hari kiamat. Takdir ini umum bagi seluruh makhluk. Setiap musibah dan bencana apa pun itu yang menimpa individu atau menimpa khalayak ramai, baik itu gempa bumi, kekeringan, kelaparan, semua itu sudah dicatat di kitab Lauhul Mahfuzh. 

Dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash radhiyallahu ‘anhuma, Nabi bersabda,

كَتَبَ اللَّهُ مَقَادِيرَ الْخَلاَئِقِ قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضَ بِخَمْسِينَ أَلْفَ سَنَةٍ

Allah telah mencatat takdir setiap makhluk sebelum 50.000 tahun sebelum penciptaan langit dan bumi (HR. Muslim, no. 2653)

Dalam hadits lainnya disebutkan,

إِنَّ أَوَّلَ مَا خَلَقَ اللَّهُ الْقَلَمَ فَقَالَ اكْتُبْ. فَقَالَ مَا أَكْتُبُ قَالَ اكْتُبِ الْقَدَرَ مَا كَانَ وَمَا هُوَ كَائِنٌ إِلَى الأَبَدِ

Sesungguhnya awal yang Allah ciptakan (setelah ‘arsy, air dan angin) adalah qalam (pena), kemudian Allah berfirman, ‘Tulislah.’ Pena berkata, ‘Apa yang harus aku tulis.’ Allah berfirman, ‘Tulislah takdir berbagai kejadian dan yang terjadi selamanya.’ (HR. Tirmidzi no. 2155)

Kedua: Takdir basyari yaitu Allah mengambil janji pada manusia untuk mengakui bahwa Dia adalah Rabb mereka. Dari situlah Allah tetapkan mana yang bahagia dan sengsara. Hal ini sebagaimana firman Allah,

وَإِذْ أَخَذَ رَبُّكَ مِنْ بَنِي آدَمَ مِنْ ظُهُورِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَأَشْهَدَهُمْ عَلَىٰ أَنْفُسِهِمْ أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ ۖقَالُوا بَلَىٰ ۛشَهِدْنَا ۛأَنْ تَقُولُوا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّا كُنَّا عَنْ هَٰذَا غَافِلِينَ

Dan (ingatlah), ketika Rabbmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Rabbmu?” Mereka menjawab: “Betul (Engkau Rabb kami), kami menjadi saksi”. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Rabb).” (QS. Al-A’raf: 172)

Ketiga: Takdir ‘umri yaitu takdir sebagaimana terdapat pada hadits Ibnu Mas’ud, dimana janin yang sudah ditiupkan ruh di dalam rahim ibunya akan ditetapkan mengenai empat hal. Dalam hadits yang dimaksud disebutkan,

ثُمَّ يُرْسَلُ إِلَيْهِ الْمَلَكُ فَيَنْفُخُ فِيْهِ الرُّوْحَ، وَيُؤْمَرُ بِأَرْبَعِ كَلِمَاتٍ: بِكَتْبِ رِزْقِهِ وَأَجَلِهِ وَعَمَلِهِ وَشَقِيٌّ أَوْ سَعِيْدٌ

Kemudian diutus kepadanya seorang malaikat lalu ditiupkan padanya ruh dan diperintahkan untuk ditetapkan empat perkara, yaitu rezekinya, ajalnya, amalnya dan kecelakaan atau kebahagiaannya (HR. Bukhari, no. 6594 dan Muslim, no. 2643)

Keempat: Takdir tahunan yaitu takdir yang ditetapkan pada malam lailatul qadar mengenai kejadian dalam setahun. Allah Ta’ala berfirman,

فِيهَا يُفْرَقُ كُلُّ أَمْرٍ حَكِيمٍ

Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah (QS. Ad-Dukhan: 4)

Ibnu Abbas mengatakan, “Pada malam lailatul qadar, ditulis pada ummul kitab segala kebaikan, keburukan, rizki dan ajal yang terjadi dalam setahun.”

Juga disebutkan dalam ayat lainnya yang membicarakan tentang penetapan takdir tahunan pada malam Lailatul Qadar,

تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِمْ مِنْ كُلِّ أَمْرٍ

سَلَامٌ هِيَ حَتَّىٰ مَطْلَعِ الْفَجْرِ

Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Rabbnya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar (QS. Al-Qadr: 4-5)

Kelima: Takdir harian. Dalam ayat disebutkan,

يَسْأَلُهُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ كُلَّ يَوْمٍ هُوَ فِي شَأْنٍ

Semua yang ada di langit dan bumi selalu meminta kepadaNya. Setiap waktu Dia dalam kesibukan (QS. Ar-Rahman: 29)

Mengenai tafsir ayat ini, setiap harinya Allah mengurus makhluk-Nya dengan ada yang jadi mulia dan sengsara, ada yang tinggi dan ada yang rendah, ada yang diberi dan dihalangi, ada yang dicukupkan dan ada yang dibuat jadi fakir, ada yang dibuat tertawa dan ada yang menangis, ada yang dimatikan dan ada yang dihidupkan. Demikian seterusnya.

Referensi :

  • Al-Iman bi Al-Qadha’ wa Al-Qadar. Dr. Muhammad bin Ibrahim Al-Hamd
  • Syarh Al-Aqidah Al-Wasithiyyah. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin
  • Syarh As-Sunnah. Imam Al-Muzani

The Habaib – Media Islam dan Kajian Online

Leave a Reply

*